Distriknews.co Kutai Kartanegara – Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Desa Kerta Buana, I Made Susana, menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan keagamaan yang digelar di Pura Pasupati pada Jumat malam (3/4/2026) tidak hanya menjadi bagian dari perayaan, tetapi juga momentum penting untuk mempererat silaturahmi antarumat Hindu.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memang dirancang khusus untuk membangun hubungan yang harmonis, baik di internal umat maupun dengan pemerintah daerah. Menurutnya, kebersamaan dalam kegiatan keagamaan menjadi fondasi penting dalam menjaga persatuan.
“Kegiatan hari ini rangkaiannya memang khusus untuk silaturahmi, menjalin hubungan yang harmonis antar sesama umat Hindu,” ujarnya.
Selain itu, ia mengaku bersyukur karena dalam kesempatan tersebut, umat Hindu di Desa Kerta Buana juga dapat berinteraksi langsung dengan pemerintah. Hal ini dinilai memberikan kesan tersendiri bagi masyarakat.
“Dalam kesempatan ini tentu kami sangat berbahagia, karena tidak hanya bisa menjalin hubungan sesama umat Hindu, tetapi juga langsung dengan pemerintah. Itu yang sangat berkesan bagi kami,” tambahnya.
Dari sisi data, I Made Susana mengungkapkan bahwa jumlah anggota aktif dalam kegiatan adat tercatat sebanyak 411 kepala keluarga (KK). Namun, jumlah tersebut merupakan yang benar-benar aktif, mengingat sebagian lainnya sudah tidak terlibat karena faktor usia atau kondisi keluarga.
“Untuk data, anggota aktif dalam kegiatan adat berjumlah 411 KK. Namun itu yang benar-benar aktif, karena ada juga yang sudah tidak aktif,” jelasnya.
Secara keseluruhan, jumlah umat Hindu di Desa Kerta Buana mencapai lebih dari 2.000 kepala keluarga. Mayoritas masyarakat merupakan transmigran asal Bali yang datang sejak tahun 1980 dan berasal dari berbagai kabupaten di Pulau Dewata.
“Sebagian besar masyarakat di sini merupakan transmigrasi dari Bali sejak tahun 1980, dan hampir semua kabupaten di Bali ada di Desa Kerta Buana ini,” katanya.
Ia juga menyoroti tantangan dalam melestarikan budaya, khususnya dalam pembuatan ogoh-ogoh yang membutuhkan biaya besar. Menurutnya, satu ogoh-ogoh berkualitas dapat menghabiskan anggaran puluhan juta rupiah.
“Satu ogoh-ogoh dengan kualitas yang baik bisa menghabiskan biaya sekitar 25 hingga 50 juta rupiah,” ungkapnya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap adanya dukungan dari pemerintah agar pelestarian budaya dapat terus berjalan. Bantuan tersebut dinilai penting untuk meringankan beban masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas karya seni.
“Dengan adanya dukungan tersebut, kami bisa menghasilkan karya yang lebih baik sebagai bentuk realisasi kreativitas dan imajinasi seni kami,” ujarnya.
Selain dukungan budaya, ia juga menyampaikan harapan agar pemerintah dapat membantu penyelesaian pembangunan tempat ibadah yang telah berdiri sejak puluhan tahun lalu namun belum sepenuhnya rampung.
“Tempat ibadah kami yang sudah ada sejak 45 tahun lalu hingga saat ini belum masuk kategori selesai. Kami berharap ke depan bisa mendapatkan dukungan nyata agar dapat diselesaikan dengan baik,” tutupnya.
Melalui kegiatan ini, umat Hindu di Desa Kerta Buana berharap hubungan harmonis dengan pemerintah terus terjalin, sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam mendukung pelestarian budaya dan pembangunan keagamaan di daerah.
Penulis: Muhammad Zailany


