Distriknews.co Tenggarong – Kepolisian melalui Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud) Polres Kutai Kartanegara masih melakukan penanganan terkait tenggelamnya kapal wisata yang difungsikan sebagai kafe terapung di kawasan pelabuhan depan Museum Mulawarman, Tenggarong. Hingga saat ini proses penanganan masih berlangsung sambil menunggu langkah evakuasi kapal yang tenggelam di Sungai Mahakam.
Kanit Gakkum Satpolairud Polres Kutai Kartanegara, Ipda Rio Hedy Wiyatma, menjelaskan bahwa kapal tersebut diketahui dimiliki oleh dua orang pemilik. Untuk sementara, pengurusan terkait kapal tersebut telah diserahkan kembali kepada pihak pemilik, meskipun proses penanganan dari pihak kepolisian tetap berjalan.
“Kapal tersebut merupakan kapal yang dimiliki oleh dua orang, sehingga untuk sementara pengurusannya kami serahkan kepada pihak pemilik. Namun proses penanganan tetap berjalan dan setiap perkembangan akan kami laporkan kepada pimpinan,” ujarnya saat ditemui, Rabu (11/3/2026).
Ia mengatakan bahwa saat ini pihak terkait juga tengah menunggu proses pengecekan dari tim penyelam. Tim tersebut disebut berasal dari pihak pribadi yang membantu melakukan pemeriksaan kondisi kapal di bawah permukaan air.
Menurut Rio, pemeriksaan tersebut penting dilakukan karena kondisi kapal secara keseluruhan belum dapat diketahui secara pasti. Saat ini yang terlihat di permukaan hanya bagian atap kapal, sementara badan kapal hingga bagian lunasnya masih berada di bawah air.
“Tim penyelam akan melakukan pengecekan terlebih dahulu. Yang terlihat sekarang hanya atap kapal, sedangkan badan kapal sampai ke bagian lunasnya belum diketahui apakah masih di tempat atau sudah bergeser,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa jika kapal tidak segera dievakuasi, dikhawatirkan dapat menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Material kapal yang sebagian besar berbahan kayu berpotensi rusak, patah, bahkan bisa terseret arus Sungai Mahakam.
Selain itu, keberadaan kapal yang tenggelam juga dinilai dapat menimbulkan risiko keselamatan bagi masyarakat yang datang mendekat ke lokasi kejadian.
“Dikhawatirkan ada masyarakat yang penasaran datang ke lokasi, misalnya anak-anak atau warga yang ingin melihat langsung. Hal itu tentu berbahaya jika mereka mencoba mendekati kapal atau mengambil barang dari dalamnya,” katanya.
Berdasarkan dugaan sementara dari personel Satpolairud, penyebab kapal tenggelam diduga akibat kebocoran pada badan kapal. Pada kondisi normal, rembesan air sebenarnya masih bisa diatasi dengan pompa kuras yang tersedia di kapal.
Namun dalam kejadian ini, menurut informasi yang diterima petugas, pasokan listrik di kapal sempat mengalami gangguan sehingga pompa kuras tidak dapat berfungsi.
“Diduga ada kebocoran pada kapal. Biasanya air yang masuk bisa dipompa keluar, tetapi saat itu listrik mati sehingga pompa kuras tidak berfungsi,” ungkap Rio.
Ia juga menjelaskan bahwa kapal tersebut bukan kapal penumpang reguler, melainkan kapal wisata yang biasanya digunakan untuk kegiatan susur Sungai Mahakam, termasuk wisata melihat Pesut Mahakam.
Namun belakangan kapal tersebut sudah cukup lama tidak beroperasi. Bahkan sejak sekitar tahun 2025 kapal tersebut diketahui hanya bersandar di lokasi dan tidak lagi digunakan untuk kegiatan wisata.
Selain itu, lokasi tempat kapal bersandar juga sudah tidak lagi difungsikan sebagai pelabuhan penumpang karena aktivitas pelabuhan telah dipindahkan ke tempat lain di seberang sungai.
“Pada prinsipnya kami mendukung usaha wisata masyarakat, termasuk wisata pengenalan pesut yang menjadi potensi daerah. Kejadian seperti ini merupakan musibah yang tentu tidak dapat diprediksi,” tuturnya.
Saat ini pihak kepolisian telah melakukan pengambilan keterangan dari sejumlah pihak serta mendokumentasikan lokasi kejadian sebagai bagian dari proses penanganan lebih lanjut. Sementara itu, nilai kerugian akibat peristiwa tersebut masih dalam proses pendataan.
Penulis: Muhammad Zailany


