Distriknews.co, Kutai Kartanegara – Di sebuah kawasan yang sunyi namun penuh denyut kreativitas di Jagad Culture House, Sukoharjo, Jawa Tengah, suara-suara lahir bukan hanya dari alat musik, tetapi dari perenungan yang dalam. Selama tujuh hari, 18–24 Desember 2025 kemarin, sembilan talenta musik terpilih dari berbagai penjuru Indonesia menjalani sebuah proses kreatif yang intens melalui Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, program eksklusif di bawah naungan Kementerian Kebudayaan.
Program ini sepenuhnya mendapat dukungan langsung dari Kementerian Kebudayaan, termasuk pembiayaan transportasi dan kebutuhan peserta selama kegiatan. MTN Seni Budaya dirancang sebagai ruang eksplorasi mendalam bagi para penyanyi, penulis lagu, dan komposer berbasis tradisi untuk memperkuat identitas artistik sekaligus memperluas cara pandang bermusik.
Pelaksanaan MTN Seni Budaya menggandeng Peni Candra Rini, komposer, pendidik, sekaligus performer musik tradisi dan eksperimental, sebagai narasumber dan mentor utama. Sosok yang akrab disapa Bunda Peni ini dikenal dengan pendekatan berkesenian yang menempatkan kejujuran batin dan kepekaan rasa sebagai fondasi utama penciptaan karya.
Peserta yang terlibat berasal dari sembilan provinsi, di antaranya Aceh, Riau, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Kalimantan Timur. Dari Bumi Etam, Achmad Fauzi, komposer, penulis lagu dan Founder Petala Borneo asal Kutai Kartanegara, terpilih mewakili Kalimantan Timur setelah melalui proses kurasi ketat secara nasional.
Achmad Fauzi, yang akrab disapa Ozi, mengaku keikutsertaannya bermula dari keberanian mencoba. Ia mengirimkan Curriculum Vitae serta portofolio karya, termasuk album Bunga Hati Betemu dan karya-karya bersama Petala Borneo, grup musik etnik yang ia dirikan. Seluruh karya tersebut kemudian dikurasi hingga akhirnya ia menerima kabar lolos sebagai salah satu dari sembilan peserta terpilih.
“Awalnya cuma coba-coba. Saya ikut kurasi, kirim karya, CV, dan alhamdulillah lolos mewakili Kalimantan Timur,” ungkap Ozi.
Selama kegiatan, para peserta tidak hanya mengikuti kelas, tetapi juga tinggal bersama di kawasan sanggar Jagad Culture House. Seluruh aktivitas terpusat dalam satu area yang mencakup studio musik, ruang belajar, ruang praktik, hingga homestay tempat peserta menginap. Pola hidup bersama ini menciptakan suasana belajar yang intens, akrab, dan penuh dialog.
Pada sesi awal, Ozi memperkenalkan diri sekaligus mempresentasikan karya-karyanya. Namun, menurutnya, MTN Seni Budaya tidak berfokus pada penguatan teknis semata. Program ini justru menggali sisi terdalam seorang musisi.
“Bunda Peni percaya bahwa kami semua adalah perwakilan terbaik dari daerah masing-masing, dengan talenta luar biasa yang layak didengar dunia,” ujar Ozi, Minggu (11/1/2026).
Dalam setiap proses, peserta diajak untuk lebih peka terhadap perasaan, menggali kesadaran artistik, serta membangun relasi yang selaras dengan alam dan lingkungan sekitar. Musik diposisikan sebagai medium refleksi hubungan antara manusia, budaya, dan alam semesta.
Berbagai tahapan dijalani peserta, mulai dari belajar bersama, diskusi, berbagi pengetahuan, mencipta karya, hingga konsultasi langsung dengan mentor. Seluruh proses kreatif tersebut kemudian didokumentasikan dan dipresentasikan dalam sebuah pertunjukan karya yang disaksikan langsung oleh Peni Candra Rini, musisi Jawa Tengah, serta perwakilan MTN Seni Budaya dan Kementerian Kebudayaan.
Bagi Ozi, pengalaman paling berkesan adalah berbaur dengan peserta dari sembilan provinsi berbeda. Mereka saling berbagi cerita, kebiasaan, kultur, dan sudut pandang tentang musik dan pertunjukan.
“Kami belajar dari pagi sampai malam. Ini bukan kegiatan akhir tahun yang santai. Kami benar-benar digarap, bukan hanya pola pikir, tapi pola rasa dan jiwa,” tuturnya.
Hingga hampir tiga minggu setelah kegiatan berakhir, Ozi mengaku jiwanya masih tertinggal di Jagad Culture House. Program ini memberinya energi baru, sekaligus kepekaan yang lebih dalam untuk melihat potensi lokal Kalimantan Timur, khususnya Kutai Kartanegara.
“Kami tidak dididik bagaimana menjadi hebat bermain musik, tapi bagaimana lebih peka melihat alam sekitar, manusia, dan budaya untuk diangkat menjadi karya berbasis kelokalan,” jelasnya.
Meski program ini berjalan secara mandiri tanpa keterlibatan langsung pemerintah daerah, Ozi berharap ke depan ada perhatian lebih dari OPD terkait kebudayaan. Menurutnya, MTN Seni Budaya merupakan ruang strategis untuk menjaring talenta daerah agar mampu tampil dan bersaing di tingkat nasional.
“Semoga pemerintah daerah menyadari bahwa ada anak Kutai yang lolos kurasi nasional dan mewakili Kalimantan Timur dalam program yang cukup bergengsi ini,” harapnya.
Bagi Achmad Fauzi, MTN Seni Budaya bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari proses berkesenian yang lebih jujur, lebih peka, dan lebih berakar. Sebuah perjalanan pulang untuk mengenali diri, budaya, dan tanah tempat karya itu lahir.



