Distriknews.co, Sibolga – Banjir dan longsor yang melanda Kota Sibolga, Sumatera Utara, sejak Senin 24 November 2025 menewaskan delapan warga. Hingga Kamis malam, akses komunikasi masih terputus di sejumlah titik. Situasi ini membuat proses penanganan bencana berjalan lambat karena pemerintah dan lembaga bantuan sulit mengakses lokasi terdampak. Kondisi darurat ini juga memicu kebingungan karena banyak pejabat daerah tidak dapat dihubungi.
Ketua Partai Nasdem Sumatera Utara, Iskandar, menyampaikan bahwa Wali Kota Sibolga, Ahmad Syukri, masih belum dapat dihubungi sejak hari kejadian. Ia menjelaskan bahwa sulitnya menemukan Syukri bukan karena dugaan tertentu, tetapi murni akibat jaringan komunikasi yang lumpuh di wilayah tersebut. Ia menyebut bahwa hampir semua kader Nasdem di Sibolga juga tidak bisa dihubungi selama dua hari terakhir.
Informasi mengenai kerusakan infrastruktur terus bertambah. Laporan sementara menyebut seluruh akses jalan masuk menuju Sibolga terputus. Beberapa jalur utama tertimbun material longsor dan sebagian lain tidak dapat dilalui karena jembatan putus. Kondisi ini membuat distribusi logistik dan peralatan evakuasi terhambat. Pemerintah provinsi mencatat beberapa titik evakuasi kehabisan bahan makanan pada hari ketiga pascabencana.
Iskandar mengaku kesulitan menyalurkan bantuan karena tidak mengetahui jalur alternatif yang aman. Ia mengatakan tim internal sedang mencari rute darat yang memungkinkan untuk masuk ke Sibolga. Ia menjelaskan bahwa partai berkoordinasi dengan relawan lokal, namun komunikasi terganggu sehingga informasi sulit diperbarui. Upaya ini dilakukan agar bantuan bisa segera tiba di daerah terdampak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebut intensitas hujan ekstrem di kawasan barat Sumatera menjadi salah satu pemicu longsor dan banjir bandang. Data curah hujan dari BMKG menunjukkan peningkatan lebih dari 80 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Kondisi geografis dengan kontur perbukitan membuat Sibolga rentan saat hujan deras berkepanjangan. Pemerintah pusat sebelumnya mengeluarkan peringatan potensi bencana hidrometeorologi untuk wilayah tersebut.
Situasi di lapangan masih berubah cepat. Tim gabungan melaporkan adanya beberapa desa yang terisolasi total karena jalan penghubung hilang tersapu arus. Relawan lokal menggunakan perahu kecil untuk membantu warga yang terjebak. Hingga Kamis malam, sedikitnya 120 warga mengungsi di fasilitas sosial yang masih bisa digunakan. Sebagian pengungsi membutuhkan bantuan medis karena luka akibat reruntuhan.
Iskandar mengatakan bahwa langkah prioritas saat ini adalah memastikan keberadaan para kader dan pejabat daerah, termasuk Wali Kota. Ia menyebut bahwa pihaknya berupaya mencari jalur udara sebagai alternatif, meski cuaca buruk membuat helikopter sulit diterbangkan. Ia berharap kondisi membaik agar proses evakuasi dan pencarian bisa dilakukan lebih cepat. Kondisi yang belum stabil membuat seluruh pihak masih menunggu perkembangan terbaru.
Laporan mengenai kerusakan rumah, fasilitas publik, dan jaringan listrik terus dikumpulkan. Pemerintah provinsi memperkirakan waktu pemulihan bisa memakan waktu lebih dari satu minggu. Hingga seluruh jalur komunikasi normal kembali, koordinasi akan dilakukan menggunakan perangkat radio yang tersedia di pos terdekat. Pemerintah meminta masyarakat tetap tenang dan mengikuti arahan petugas yang berada di lapangan.


