Distriknews.co Tenggarong – Komunitas Pelem Indie (KOPI) Tenggarong menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi di Kedai Rogoss Tenggarong, Sabtu (2/5/2026) malam. Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi bagi masyarakat, khususnya anak muda, untuk membahas isu lingkungan, sosial, dan kebijakan pembangunan.
Film dokumenter karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale itu mengangkat persoalan krisis ekologis dan kemanusiaan di Papua yang berkaitan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) serta ekspansi agribisnis.
Founder KOPI Tenggarong, Faruq Wijaya, mengatakan kegiatan nobar tersebut merupakan bagian dari upaya komunitas dalam membangun ekosistem perfilman dan budaya diskusi di daerah.
“Pemutaran film ini berangkat dari kegiatan sebelumnya yang kami lakukan untuk membangun ekosistem film di Tenggarong. Dari forum-forum tersebut muncul kegelisahan bahwa kita perlu lebih banyak ruang diskusi,” ujarnya.
Menurut Faruq, meningkatnya perhatian publik terhadap film Pesta Babi menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan ruang dialog terbuka di tengah masyarakat. Ia menilai, film dokumenter memiliki kekuatan untuk menghadirkan perspektif baru terhadap persoalan sosial yang terjadi di berbagai daerah.
“Ketika film ini mulai ramai dibicarakan, kami melihat ini sebagai momentum untuk menghadirkan ruang diskusi dan menghidupkan diskursus di daerah,” katanya.
Ia menjelaskan, film dokumenter tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat memantik kesadaran kritis masyarakat terhadap persoalan yang terjadi di sekitarnya.
“Film ini tidak hanya berhenti pada tontonan, tetapi memunculkan gagasan dan isu yang bisa direfleksikan. Meski konteksnya Papua, tapi relevan juga untuk kita di Kutai Kartanegara dan Kalimantan Timur,” tuturnya.
Faruq menilai, isu-isu yang diangkat dalam film tersebut memiliki keterkaitan dengan kondisi di berbagai daerah lain, termasuk Kalimantan yang juga menghadapi tantangan terkait pembangunan dan lingkungan hidup.
Karena itu, ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan agar masyarakat memiliki ruang untuk berdiskusi, bertukar pandangan, serta meningkatkan kesadaran terhadap isu sosial dan lingkungan.
“Film ini sangat layak ditonton karena membuka wawasan. Apa yang terjadi di Papua bisa menjadi pembelajaran agar hal serupa tidak terjadi di daerah kita,” ucapnya.
Kegiatan nobar berlangsung dalam suasana santai dan diikuti sejumlah pemuda serta masyarakat Tenggarong. Selain menyaksikan film bersama, peserta juga terlibat dalam diskusi mengenai dampak pembangunan terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat lokal.
Melalui kegiatan ini, KOPI Tenggarong berharap budaya literasi visual dan ruang diskusi publik di Kutai Kartanegara dapat terus tumbuh, sehingga masyarakat semakin kritis dalam menyikapi berbagai isu yang berkembang di daerah maupun nasional.
Penulis: Muhammad Zailany


