Distriknews.co, Kutai Kartanegara – Pemerintah Desa Kersik, Kecamatan Marangkayu, terus mendorong peningkatan pelayanan publik melalui program digitalisasi desa. Kepala Desa Kersik, Jumadi, menyampaikan bahwa upaya ini menjadi fokus utama pada tahun 2025, terutama dalam penyempurnaan data ekonomi, sosial, dan geografis yang lebih terstruktur. Hal ini ia sampaikan saat ditemui pada Sabtu (15/11/2025).
Jumadi menjelaskan bahwa pelayanan umum di desanya sejauh ini berjalan lancar. Namun, pemerintah desa tetap berupaya memperkuat sistem dengan menghadirkan layanan digital yang lebih lengkap dan mudah diakses masyarakat. Ia menegaskan bahwa digitalisasi bukan hanya mempermudah administrasi, tetapi juga membuka peluang bagi desa untuk memiliki basis data yang lebih akurat dan terintegrasi.
“Tahun ini kami ada program peningkatan digitalisasi desa. Data ekonomi, sosial, dan geografis kami buat lebih detail. Kami juga sedang melakukan pengembangan di website desa agar bisa menampilkan informasi tersebut,” ujarnya. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi transparansi dan memperkuat sistem informasi desa.
Website desa Kersik, yang dapat diakses melalui kersik.desa.id, sebenarnya sudah memiliki desain sejak lama. Namun, menurut Jumadi, proses penginputan data yang lengkap membutuhkan waktu.
“Tahun ini kami masih menginput data, jadi belum dipublikasikan. Mungkin tahun depan sudah bisa ditampilkan pembaruan datanya,” jelasnya.
Rencana pembaruan situs web tersebut akan memungkinkan masyarakat, instansi pemerintah, hingga lembaga lain untuk mengakses data penting desa. Beberapa data yang akan tersedia antara lain data pemilik lahan, informasi ekonomi, hingga data lain yang terhubung dengan sistem informasi desa. Transparansi ini diharapkan mampu membantu pengambilan keputusan berbasis data.
Saat ini, website desa berfungsi sebagai media informasi dan sarana pelayanan digital. Dokumen-dokumen seperti surat keterangan, data kematian, dan administrasi lain telah tersimpan secara digital. Untuk administrasi internal, pemerintah desa juga menggunakan aplikasi khusus guna menjaga kerapian arsip dan efisiensi kerja.
Meski sistem digital telah tersedia, Jumadi mengakui bahwa antusiasme masyarakat masih rendah.
“Pelayanan lewat aplikasi Android sebenarnya sudah bisa, tetapi masyarakat lebih senang datang langsung ke kantor. Padahal dari rumah pun bisa, dan dokumen otomatis tercetak,” ungkapnya.
Kondisi ini menurutnya dipengaruhi kebiasaan penggunaan teknologi di kalangan warga.
Menurutnya, tantangan utama bukan pada teknis, tetapi pada budaya. Warga desa umumnya menggunakan ponsel hanya untuk media sosial, berbeda dengan masyarakat perkotaan yang sudah lebih terbiasa bertransaksi dan mengurus layanan secara digital.
“Kalau kami edukasi terlalu jauh, takutnya tidak efektif karena masih banyak yang gagap teknologi,” tambahnya.
Meski begitu, Jumadi optimistis bahwa proses adaptasi akan berjalan seiring waktu. Ia melihat bahwa generasi muda seperti Gen Z dan Gen Alpha berada pada posisi yang lebih siap menyambut layanan digital.
“Sekarang masih didominasi generasi milenial ke atas, yang agak sulit beradaptasi. Tapi generasi berikutnya pasti lebih cepat menyesuaikan,” pungkasnya. (Zy)



