Kunjungan Meningkat, Wisata Air Terjun Kandua Raya Kedang Ipil Kian Diminati Wisatawan

redaksi

Distriknews.co Kutai Kartanegara – Destinasi wisata alam Air Terjun Kandua Raya di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, menunjukkan tren positif dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini disampaikan Bendahara Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dewi Karya, Jumat (24/4/2026).

Dewi mengungkapkan, dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah pengunjung saat ini mengalami lonjakan signifikan. Bahkan, hampir setiap hari kawasan air terjun tersebut didatangi wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah.

“Kalau dulu pengunjung masih sedikit, sekarang hampir setiap hari selalu ada yang datang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pada hari biasa pengunjung tidak dikenakan biaya masuk karena tidak selalu ada petugas yang berjaga. Namun, saat akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu, pengelola biasanya memberlakukan retribusi bagi wisatawan.

“Untuk hari biasa gratis, tapi kalau akhir pekan biasanya ada penjaga dan dikenakan retribusi,” jelasnya.

Dari sisi keamanan, Dewi menyebut kawasan air terjun relatif aman untuk aktivitas seperti mandi maupun berenang. Meski demikian, pengunjung tetap diimbau untuk berhati-hati karena kondisi bebatuan di sekitar lokasi cukup licin.

“Secara umum aman, tapi tetap harus waspada karena batu-batunya licin,” katanya.

Air Terjun Kandua Raya sendiri memiliki beberapa tingkatan. Secara historis, terdapat dua bagian utama, yakni Kandua Raya di bagian bawah dan Kandua Putang yang memiliki ketinggian lebih tinggi. Namun, sebagian besar wisatawan memilih mengunjungi bagian bawah karena aksesnya lebih mudah dijangkau.

Selain menikmati air terjun, aktivitas wisatawan di lokasi ini juga cukup beragam. Tidak sedikit pengunjung yang datang untuk berkemah dan menikmati suasana alam yang masih asri.

“Biasanya yang camping datang hari Sabtu dan menginap sampai Minggu,” ungkap Dewi.

Dalam satu bulan, jumlah kunjungan diperkirakan bisa mencapai lebih dari 2.000 orang, terutama saat musim liburan. Kondisi ini turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

Terkait retribusi, pengunjung pejalan kaki dikenakan tarif sekitar Rp5.000, sedangkan pengguna kendaraan bermotor Rp10.000. Pendapatan tersebut kemudian dibagi untuk berbagai kebutuhan, termasuk kas desa dan operasional pengelolaan.

“Sekitar 10 persen masuk kas desa, 50 persen dikelola Pokdarwis, sisanya untuk operasional seperti parkir dan kebersihan,” terangnya.

Dewi menambahkan, pengelolaan wisata ini melibatkan masyarakat lokal, termasuk generasi muda yang turut berperan sebagai petugas di lapangan.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah tantangan, terutama dalam penyediaan fasilitas pendukung seperti tempat istirahat, spot foto, dan sarana hiburan. Pengembangan fasilitas tersebut menjadi salah satu fokus ke depan.

“Harapannya ke depan pengembangan wisata ini bisa melibatkan lebih banyak masyarakat, supaya manfaatnya juga semakin luas,” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Zailany

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?