Distriknews.co, TENGGARONG – Di balik aliran air bersih yang mengalir ke rumah-rumah warga desa, tersimpan misi besar yang melibatkan semangat pemberdayaan dan kemandirian masyarakat. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memandang air bersih bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan fondasi untuk membangun kualitas hidup dan ketahanan sosial ekonomi di tingkat desa. Itulah semangat yang melandasi lahirnya Program Dedikasi Air Bersih Desa.
Program ini digulirkan melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar dan menyasar puluhan desa yang selama ini belum memiliki akses layak terhadap air bersih. Dalam pelaksanaannya, program ini menggandeng Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) serta sejumlah instansi terkait sebagai bentuk kolaborasi lintas sektor yang berpihak kepada masyarakat.
Kepala DPMD Kukar, Arianto, menegaskan bahwa akses terhadap air bersih bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga menyangkut pemberdayaan sosial dan peningkatan kapasitas ekonomi warga desa. “Air bersih itu awal dari kehidupan yang layak. Jika masyarakat punya akses, maka mereka bisa lebih produktif dan mandiri,” ungkapnya, Selasa (28/4).
Contohnya dapat dilihat di Desa Sedulang, yang telah memiliki infrastruktur jaringan air, namun belum berfungsi secara optimal. Menurut Arianto, hal ini menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan pengelolaan, mulai dari pembangunan hingga pemeliharaan. Di sinilah peran BUMDes menjadi strategis, karena mereka bisa menjadi pengelola air bersih dengan sistem yang transparan dan akuntabel.
Sebagai upaya memperkuat kapasitas warga, DPMD Kukar secara aktif mengadakan pelatihan teknis, pendampingan manajerial, serta evaluasi rutin kepada pengelola air desa. Program ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga sumber daya air, efisiensi pemakaian, serta pengelolaan biaya operasional yang berkelanjutan.
“Pemerintah bukan hanya membangun lalu menyerahkan begitu saja, tapi menjadi mitra yang mendampingi desa. Kita ingin agar desa melihat air sebagai aset bersama yang dikelola dengan semangat gotong royong,” lanjut Arianto.
Target pencapaian program ini pada 2025 bukanlah akhir, melainkan fondasi awal dari sistem pengelolaan air bersih berbasis komunitas. Arianto berharap setiap desa mampu menjadikan air sebagai sumber kehidupan dan potensi ekonomi yang dikelola secara mandiri. “Kita ingin program ini menciptakan dampak jangka panjang, bukan sekadar bangun lalu tinggal,” tegasnya.
(Adv/DPMD/Kukar)


