Distriknews.co, Kutai Kartanegara – Sebuah video yang menampilkan anak-anak bermain sepak bola di atas lapangan kayu ulin di Desa Jantur, Kecamatan Muara Muntai, menarik perhatian warganet. Fenomena ini memicu berbagai reaksi, termasuk dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutai Kartanegara yang langsung memberikan tanggapan.
Kepala Dispora Kukar, Aji Ali Husni, mengatakan kondisi ini memang mencerminkan realitas geografis di sejumlah desa hulu. “Di wilayah seperti Muara Muntai, jumlah lahan darat sangat terbatas. Maka, warga memanfaatkan kayu ulin sebagai dasar lapangan,” jelas Aji Ali pada 26 Mei 2024.
Dispora Kukar telah lama menyadari tantangan ini. Bahkan, pembangunan fasilitas olahraga berbahan kayu ulin sudah dilakukan sebelumnya di Desa Muara Enggelam. Menurut Aji Ali, fasilitas tersebut mendapat sambutan baik dari masyarakat setempat. “Kita juga anggarkan tahun ini untuk tambahan fasilitas seperti jaring dan penerangan,” ujarnya.
Komitmen pemerataan sarana olahraga menjadi fokus utama Pemkab Kukar. Berdasarkan informasi dari dispora.kukarkab.go.id, sejumlah program peningkatan sarana dan prasarana olahraga tengah dijalankan secara bertahap. Tahun 2025, pembangunan fasilitas olahraga menyasar kecamatan Marangkayu, Muara Badak, dan Samboja.
Data dari laman kukarkab.go.id menunjukkan bahwa 54 persen dari total desa di Kukar berada di kawasan perairan atau rawa. Kondisi ini menjadikan inovasi seperti lapangan kayu ulin sangat relevan dan fungsional, terutama di desa-desa tanpa daratan luas.
Meski sarana sederhana, semangat anak-anak di desa hulu tidak surut. Video viral itu menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak menghalangi semangat berolahraga. “Itu menjadi pengingat bagi kami, bahwa anak-anak di daerah tetap antusias. Kami wajib mendukung mereka,” kata Aji Ali.
Pemerintah daerah berharap, dengan pembangunan sarana olahraga yang berkelanjutan, minat generasi muda terhadap aktivitas fisik bisa terus tumbuh, sekaligus mendukung prestasi olahraga daerah di masa depan.
Dispora Kukar menegaskan akan terus hadir, tak hanya di kota dan ibukota kecamatan, tapi juga di desa-desa terpencil yang selama ini sering terabaikan dalam pembangunan fisik olahraga.
(Adv/DiskominfoKukar)


