Distriknews.co, Kutai Kartanegara – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kutai Kartanegara menggelar penilaian Lomba Desa Berkinerja Baik pada Kamis (3/7/2025). Agenda ini dipusatkan di Kantor DPMD Kukar dan difokuskan pada upaya percepatan penurunan angka stunting di tingkat desa.
Kepala Dinas DPMD Kukar, Arianto, menegaskan stunting adalah tanggung jawab bersama, mulai dari pemerintah pusat hingga desa. Menurutnya, desa menjadi ujung tombak implementasi karena langsung bersentuhan dengan masyarakat. “Desa bukan hanya penerima program, tapi pelaksana utama dalam pencegahan stunting,” ujarnya.
Penilaian ini menyoroti pengelolaan anggaran desa, baik dari APBDes, Dana Desa, maupun Alokasi Dana Desa (ADD). Desa yang dianggap berkinerja baik adalah desa yang memprioritaskan penanganan stunting melalui alokasi anggaran besar dan tepat sasaran. Arianto menambahkan, “Kalau desa benar-benar paham, maka anggaran bukan hanya besar, tapi juga digunakan untuk edukasi gizi, pemantauan tumbuh kembang balita, hingga penguatan posyandu.”
DPMD Kukar menekankan bahwa lomba ini tidak sebatas kompetisi, melainkan sarana mendorong desa agar lebih serius menyusun program. Tujuannya memicu inovasi desa agar memiliki langkah konkret dan berkelanjutan. Berdasarkan data resmi Pemkab Kukar, angka stunting di wilayah ini mengalami penurunan, dari 24,1 persen pada 2021 menjadi 21,7 persen pada 2023. Penurunan tersebut membutuhkan peran aktif desa untuk terus konsisten menjaga tren positif.
Dalam pelaksanaannya, indikator penilaian tidak hanya berfokus pada besaran anggaran. Pemahaman pemerintah desa dalam menyusun program juga menjadi kriteria utama. Desa yang mengerti urgensi stunting biasanya memiliki program inovatif seperti dapur sehat, kelas gizi ibu hamil, hingga pemanfaatan pekarangan pangan lestari.
Arianto menyebut semua desa di Kukar sudah siap mengikuti lomba, tetapi perbedaan pemahaman dan keseriusan akan menjadi pembeda. Desa dengan komitmen kuat diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa lainnya.
Sejalan dengan itu, laman resmi Dinas Kesehatan Kukar menegaskan pentingnya keterlibatan lintas sektor, mulai dari tenaga kesehatan, kader posyandu, hingga tokoh masyarakat. Pendekatan multisektor dianggap mampu memperkuat efektivitas program penurunan stunting di tingkat akar rumput.
Melalui lomba ini, DPMD berharap desa-desa di Kukar semakin berdaya dalam menjalankan program pembangunan sumber daya manusia. Target nasional menurunkan stunting menjadi 14 persen pada 2024 disebut hanya dapat tercapai jika desa serius menjadi garda terdepan.
(Adv/DPMD/Kukar)


