IHSG Naik, Tapi Bayang-Bayang PHK Massal Amerika Bikin Pasar Waspada

redaksi

Distriknews.co, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Jumat 7 November 2025 dengan penguatan tipis 0,20 persen ke level 8.353,802. Sejak pembukaan di 8.346,575, indeks sempat menyentuh titik tertinggi 8.356,397 dan terendah 8.332,601. Hingga sesi pagi, tercatat 248 saham menguat, 206 melemah, dan 211 stagnan dengan nilai transaksi Rp 1,74 triliun.

Namun di balik penguatan tersebut, pasar keuangan global tengah diliputi ketidakpastian. Data terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) mencapai 175,3 persen secara tahunan, tertinggi dalam dua dekade terakhir. Dampaknya langsung terasa, indeks Dow Jones turun 0,84 persen dan S&P 500 anjlok 1,12 persen.

Kenaikan angka PHK di AS dipicu oleh melemahnya belanja konsumen, kenaikan biaya operasional, dan percepatan adopsi teknologi kecerdasan buatan. Perusahaan besar seperti Amazon, Starbucks, Target, dan Delta Air Lines sudah mengumumkan pemangkasan tenaga kerja hingga 9 persen. Kondisi ini membuat investor global berhati-hati terhadap prospek ekonomi dunia.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, IHSG berpotensi menguat terbatas dengan rentang support 8.270 dan resistance 8.380. Menurutnya, sinyal koreksi tetap terbuka karena tekanan eksternal dari pasar global cukup besar. “Potensi koreksi terbuka, hati-hati ya,” ujarnya.

Dari sisi teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memproyeksikan IHSG masih berada di awal wave (iii) dari wave [iii]. Ia memperkirakan indeks bisa melanjutkan penguatan menuju area 8.390-8.463 jika tekanan jual tetap terkendali. Level penopang utama ada di 8.275 dan 8.181.

Sementara itu, kondisi ekonomi domestik menunjukkan pertumbuhan stabil. Badan Pusat Statistik melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 mencapai 5,04 persen secara tahunan. Meski begitu, jumlah pengangguran meningkat menjadi 7,46 juta orang, naik dari Februari yang sebesar 7,28 juta.

Ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya pengangguran menjadi tantangan bagi pemerintah. Tekanan terhadap sektor industri masih kuat akibat PHK dan penurunan permintaan ekspor. Analis memperingatkan bahwa daya beli masyarakat bisa melemah dalam beberapa bulan ke depan.

Situasi ini membuat perhatian investor tertuju pada kebijakan The Fed yang diperkirakan akan memangkas suku bunga pada Desember 2025. Jika terjadi, tekanan pasar global dapat berkurang dan membuka ruang bagi Bank Indonesia untuk menyesuaikan suku bunga pada akhir tahun.

Dengan kombinasi sentimen global dan domestik yang beragam, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan jangka pendek. Namun investor disarankan tetap waspada terhadap potensi volatilitas yang dipicu oleh faktor eksternal terutama dari Amerika Serikat.

Baca juga

Bagikan:

Tags

Apa yang Anda cari?