Distriknews.co – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang wilayah lepas pantai negara bagian Sabah, Malaysia, di Pulau Kalimantan pada Senin (23/2/2025) dini hari. Getaran gempa tersebut dilaporkan terasa hingga sejumlah wilayah di Kalimantan Timur, termasuk Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutai Kartanegara, Abdal, membenarkan adanya laporan warga yang merasakan getaran gempa tersebut. Meski pusat gempa berada di negara tetangga, dampaknya tetap bisa dirasakan karena posisi geografis yang masih berada dalam satu daratan Kalimantan.
“Tadi malam terjadi gempa di Sabah, Malaysia, dan getarannya dikabarkan terasa hingga ke Kukar,” ujarnya, Senin (23/2/2026).
Abdal menjelaskan, selama ini Kalimantan memang dikenal sebagai wilayah yang relatif aman dari gempa bumi dibandingkan daerah lain di Indonesia. Namun kejadian ini menjadi pengingat bahwa potensi dampak tetap ada meskipun sumber gempa berada di luar wilayah Indonesia.
“Selama ini kita memang menganggap Kalimantan relatif aman dari gempa. Kemungkinan terjadinya gempa sangat kecil. Namun ternyata, meskipun pusat gempa berada di negara tetangga, dampaknya tetap bisa terasa karena kita masih satu daratan,” jelasnya.
Menanggapi kepanikan warga, BPBD Kukar mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak berlebihan dalam menyikapi situasi. Edukasi kebencanaan, termasuk terkait gempa bumi, dinilai perlu terus diperkuat.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, tetapi tidak panik. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa edukasi kebencanaan, termasuk gempa bumi, perlu terus kita sampaikan kepada masyarakat,” tegas Abdal.
Ia juga memberikan sejumlah tips keselamatan apabila gempa terjadi. Menurutnya, hal terpenting adalah menjaga ketenangan dan segera mencari tempat aman.
“Jika terjadi gempa, yang paling penting adalah tetap tenang. Hindari berada di dekat bangunan yang berpotensi runtuh atau di sekitar bangunan tinggi. Memang di wilayah kita tidak banyak gedung tinggi, namun tetap perlu berhati-hati terhadap bangunan yang konstruksinya kurang kuat,” katanya.
Secara umum, masyarakat disarankan berlindung di bawah meja yang kokoh atau menjauh dari benda-benda yang berpotensi jatuh. Prinsip utama adalah mengutamakan keselamatan diri dan tidak panik. Terkait potensi tsunami, Abdal menilai risikonya sangat kecil bagi wilayah Tenggarong karena letaknya relatif jauh dari pesisir.
Ia menambahkan, sebelumnya getaran gempa juga sempat terasa di Kukar saat terjadi gempa besar di Palu beberapa tahun lalu. Namun untuk kejadian terbaru ini, ia mengaku tidak merasakan langsung getarannya, meskipun terdapat laporan warga melalui media sosial.
Ke depan, BPBD Kukar berencana meningkatkan edukasi terkait gempa bumi melalui bidang pencegahan dan kesiapsiagaan.
“Sosialisasi kebencanaan sebenarnya rutin kami lakukan hampir setiap tahun. Namun untuk edukasi yang secara spesifik mengarah pada gempa bumi memang belum terlalu masif. Dengan adanya kejadian ini, tentu akan menjadi perhatian kami,” pungkasnya. (Zy)


