Distriknews.co, TENGGARONG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, hingga krisis air bersih di sejumlah wilayah. Langkah tersebut dilakukan melalui pemantauan kondisi cuaca, penguatan koordinasi lintas sektor, serta penyebarluasan informasi kepada masyarakat.
Kepala Seksi Pencegahan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kukar, Mohd Farid, mengatakan pihaknya secara rutin memantau perkembangan cuaca berdasarkan informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah mitigasi sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
Menurut Farid, terdapat sejumlah kecamatan yang masuk dalam perhatian khusus karena memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi terhadap dampak musim kemarau. Wilayah seperti Marangkayu, Muara Badak, Sangasanga, hingga Loa Kulu dinilai memiliki potensi mengalami kebakaran hutan dan lahan maupun kekeringan apabila curah hujan terus menurun.
Data BPBD Kukar mencatat, sejak Januari hingga Juli 2026 telah terjadi 12 peristiwa kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah. Catatan tersebut menjadi peringatan bahwa risiko karhutla masih cukup tinggi, terutama ketika kondisi cuaca semakin kering dalam beberapa pekan ke depan.
“Pertama kita mengantisipasi, kedua melaksanakan pelayanan kejadian. Terutama di daerah-daerah yang dilaporkan seperti Muara Badak dan Sangasanga, untuk kejadian yang bersifat kebakaran hutan dan lahan,” ujar Farid, Jumat (7/8/2026).
Selain mengantisipasi karhutla, BPBD juga menyiapkan langkah penanganan apabila musim kemarau memicu kekeringan dan kesulitan memperoleh air bersih. Farid menyebut pola penanganan yang pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya akan kembali diterapkan apabila kondisi tersebut benar-benar terjadi. Koordinasi dengan pemerintah kecamatan, desa, dan kelurahan juga terus diperkuat agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Sebagai bagian dari upaya mitigasi, BPBD Kukar aktif menyampaikan informasi kebencanaan melalui berbagai saluran komunikasi, mulai dari grup relawan kebencanaan hingga penyebaran infografis mengenai kondisi cuaca dan potensi bencana. Informasi tersebut diharapkan dapat diteruskan kepada masyarakat sehingga kewaspadaan dapat ditingkatkan sejak dini.
Farid juga berharap media massa, termasuk LPPL Radio Pemerintah Kabupaten (RPK), dapat menjadi mitra dalam menyebarluaskan informasi kebencanaan. Menurutnya, penyampaian informasi yang cepat dan akurat menjadi salah satu faktor penting untuk mengurangi risiko bencana di tengah masyarakat.
Di sisi lain, BPBD menilai sebagian besar kejadian karhutla di Kukar masih dipicu oleh aktivitas manusia. Pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi penyebab yang paling sering ditemukan dibandingkan faktor alam.
“Kenapa perlu kami banyak melakukan imbauan? Karena 99 persen kejadian yang terjadi itu disebabkan campur tangan manusia,” tegas Farid.
Atas kondisi tersebut, BPBD Kukar mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan selama musim kemarau berlangsung. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kondisi yang berpotensi menimbulkan kebakaran maupun bencana lainnya, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan dampaknya dapat diminimalkan.
Reporter: Muhammad Zailany


