Ketua RW Gen Z di Jakarta Terapkan Jam Malam untuk Cegah Tawuran

redaksi

Ketua RW Gen Z Tri Krisna Mukti (20) di Pademangat Barat, Jakarta Utara. (Sumber Foto: Kompas.com).

Distriknews.co, JAKARTA – Tri Krisna Mukti menjadi perhatian setelah dipercaya memimpin RW 02, Pademangan Barat, Jakarta Utara, saat usianya baru 20 tahun. Ia terpilih sebagai Ketua RW pada 18 Mei 2025 dengan membawa sejumlah gagasan untuk memperbaiki lingkungan tempat tinggalnya.

Seperti dilansir dari Distriknews.co, salah satu program yang langsung diterapkan Krisna adalah aturan jam malam bagi anak-anak dan remaja. Warga berusia muda diminta sudah berada di rumah setelah pukul 22.00 WIB.

Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi risiko tawuran serta aktivitas nongkrong yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan.

“Pembatasan jam malam itu untuk usia remaja dan anak kecil jadi jam 22.00 WIB, sudah tidak boleh keluar rumah untuk mencegah tawuran atau nongkrong yang aneh-aneh,” ujar Krisna saat diwawancarai Kompas.com di Kantor RW 02, Pademangan Barat, Jakarta Utara, Kamis (24/7/2025).

Ketika ditemui, program tersebut telah berjalan sekitar satu bulan. Krisna memasang pengumuman terkait aturan jam malam di sejumlah lokasi yang mudah dilihat warga.

Jika masih menemukan anak atau remaja berada di luar rumah setelah pukul 22.00 WIB, Krisna membawa mereka ke kantor RW. Ia kemudian memberikan nasihat sebelum meminta orangtua datang menjemput.

“Jadi, kalau ada anak yang keluar rumah saya bawa ke kantor RW, saya nasihatin, dan orangtuanya suruh jemput,” ungkap Krisna.

Kebijakan itu mendapat respons positif dari sejumlah warga. Mereka menilai program tersebut membantu orangtua dalam mengawasi aktivitas anak-anak pada malam hari.

“Malah warga bersyukur dan berterima kasih karena anak-anak mereka tidak usah orangtuanya yang turun tangan,” kata Krisna.

Selain menerapkan jam malam, Krisna menggagas Posyandu Remaja yang ditujukan bagi anak-anak dan pemuda berusia 12 hingga 24 tahun.

Program tersebut tidak hanya memantau kondisi fisik. Pemeriksaan juga mencakup tekanan darah, tinggi dan berat badan, serta kondisi psikologis.

“Posyandu remaja sendiri pengecekan anak-anak usia 12 – 24 tahun kita cek seperti tensi darah, tinggi badan, berat badan, psikologinya juga kita test untuk memastikan benar tidak sih pemuda kita sehat-sehat dan terjaga mentalnya,” ujar dia.

Berbagai program itu berangkat dari keresahan Krisna melihat kondisi lingkungannya. Ia memutuskan maju sebagai calon Ketua RW karena menilai perubahan di wilayah tersebut belum terlihat signifikan selama bertahun-tahun.

“Mungkin sudah terlalu lama, RW sebelumnya menjabat dan tidak ada perubahan signifikan, ya, makanya yang muda yang maju ngurusin warga supaya ada perubahan,” ujar Krisna.

Krisna kemudian harus bersaing dengan sejumlah calon yang lebih senior. Dalam pemilihan tersebut terdapat empat kandidat, termasuk dirinya. Para pesaingnya berasal dari berbagai latar belakang, seperti PNS, ketua RT, serta ketua masjid yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua RW.

Persaingan berlangsung ketat. Krisna memperoleh 31 suara, unggul satu suara dari Ketua RW sebelumnya yang mendapatkan 30 suara.

“Untuk suara tipis, saya 31 suara, hanya beda satu suara saja dengan tokoh masyarakat atau ketua RW lama,” ucap Krisna.

Kemenangan tersebut sekaligus menjadi awal pembuktian bagi Krisna. Usianya yang masih muda sempat membuat sebagian pihak meragukan kemampuannya memimpin lingkungan.

Namun, Krisna memilih menghadapi keraguan tersebut dengan turun langsung menemui warga dan menjelaskan berbagai program yang ingin dijalankannya.

Sumber: Kompas.com

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?