Tiga Opsi Revitalisasi Jembatan Besi Masih Dikaji

redaksi

Jembatan Penghubung Jalan Kartini dan Jalan Mayjend Panjaitan, Kecamatan Tenggarong

Distriknews.co, Tenggarong – Polemik revitalisasi Jembatan Besi di Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), masih bergulir. Masyarakat menyuarakan penolakan karena khawatir jembatan yang sarat nilai historis ini akan dihilangkan begitu saja. Pemerintah pun merespons dengan menunda rencana pembongkaran sambil menunggu kajian akademis yang lebih komprehensif.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kukar, Wiyono, menyatakan pihaknya terbuka terhadap masukan masyarakat. Ia menegaskan bahwa tidak ada rencana terburu-buru dalam pembongkaran jembatan, apalagi tanpa memperhatikan unsur sejarah. “Kami sangat menghargai sejarah Jembatan Besi. Karena itu, proses revitalisasi harus melalui kajian matang,” ujar Wiyono.

Saat ini, DPU Kukar tengah mengevaluasi tiga opsi utama. Pertama, pembongkaran total dan pembangunan jembatan baru di lokasi yang sama karena struktur lama dinilai sudah tidak aman berdasarkan kajian teknis. Opsi kedua adalah mempertahankan struktur jembatan dan mengalihfungsikannya sebagai jembatan pedestrian dengan fungsi edukatif dan rekreatif.

Opsi ketiga yaitu memindahkan struktur jembatan ke lokasi yang lebih aman dan menjadikannya monumen sejarah. Dengan opsi ini, nilai historis tetap terjaga dan jembatan tetap bisa dimanfaatkan sebagai ikon budaya Kukar.

Untuk memastikan proses pengambilan keputusan objektif dan berbasis data, Pemkab Kukar melibatkan tim akademisi dari Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) dan Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta). “Mereka akan melakukan analisis menyeluruh dan memberikan rekomendasi dalam waktu dekat,” jelas Wiyono.

Menurut dokumen perencanaan pembangunan Kukar tahun 2025 yang diunggah di laman resmi kutai-kartanegarakab.go.id, revitalisasi infrastruktur yang memiliki nilai historis termasuk dalam agenda prioritas pemerintah daerah, asalkan tetap memperhatikan pelestarian budaya lokal dan partisipasi publik.

Selain itu, dalam Rencana Induk Transportasi Daerah (RITD), Pemkab Kukar menekankan pentingnya keamanan infrastruktur jembatan yang melintasi sungai Mahakam dan anak sungainya, termasuk peningkatan kelayakan teknis serta fungsi sosial-ekonomi dan pariwisata dari infrastruktur tersebut.

Wiyono menegaskan, keputusan akhir tidak akan diambil secara sepihak. “Kami akan putuskan langkah terbaik berdasarkan masukan publik, kajian teknis, serta pertimbangan pelestarian sejarah. Jembatan ini adalah bagian dari identitas Tenggarong,” pungkasnya.

Dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi, revitalisasi Jembatan Besi diharapkan menjadi contoh pemugaran infrastruktur yang berimbang antara fungsi modern dan pelestarian warisan sejarah.
(Adv/DiskominfoKukar)

Baca juga

Bagikan: