Distriknews.co SAMARINDA — Suasana Gedung G Lantai 3 Ruang 02 Kampus Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur pada Selasa malam, 12 Mei 2026, tampak lebih ramai dari biasanya. Sejumlah mahasiswa, akademisi, pegiat sejarah, hingga masyarakat umum berkumpul mengikuti nonton bareng sekaligus diskusi publik film dokumenter Pesta Babi.
Kegiatan itu digelar oleh Lembaga Studi Sejarah Lokal KSB Samarinda bersama Fakultas Hukum UMKT dan Himpunan Mahasiswa Hukum UMKT. Bukan sekadar pemutaran film, forum tersebut berkembang menjadi ruang percakapan tentang isu lingkungan, pembangunan, hingga persoalan sosial yang belakangan ramai diperbincangkan.
Film garapan Dandhy Laksono dan Cypri Dale itu menyoroti situasi lingkungan dan kehidupan masyarakat di Papua yang disebut berkaitan dengan proyek strategis nasional serta ekspansi sektor agribisnis.
Dalam sesi diskusi, salah satu peserta, Santika, mahasiswa Universitas Mulawarman, menilai film tersebut mampu membuka cara pandang baru terhadap persoalan sosial dan lingkungan.
“Film ini menurut saya cukup kuat membentuk perspektif baru terhadap persoalan yang terjadi, tidak hanya di Papua, tetapi juga bagaimana kita melihatnya dari berbagai sudut pandang,” ujarnya.
Pandangan lain disampaikan sejarawan Samarinda, Muhammad Sarif. Ia mengatakan sejumlah gambaran dalam film mengingatkannya pada dinamika pembangunan di Ibu Kota Nusantara.
Menurut Sarif, film tersebut perlu disaksikan secara jernih dan tidak emosional. Ia menilai isu pembukaan lahan atas nama pembangunan maupun ketahanan pangan bukan hal baru di Indonesia.
“Saya melihat ada pola yang dalam beberapa bagian terasa mirip. Karena itu film seperti ini penting ditonton dengan pikiran terbuka dan tetap netral,” katanya.
Ia juga menyinggung adanya penolakan atau pelarangan pemutaran film di sejumlah daerah. Namun, menurut dia, situasi itu justru memunculkan rasa penasaran publik terhadap isi film tersebut.
“Kalau tidak ada unsur provokasi, saya kira ini bagian dari karya literasi. Justru ketika dilarang, orang semakin ingin tahu,” ujar Sarif.
Panitia tidak memungut biaya tiket bagi penonton. Setelah pemutaran film selesai, peserta hanya diajak berdonasi secara sukarela untuk membantu pengungsi Papua melalui lembaga sosial dan kemanusiaan setempat.
Penulis: Wanda Iqwatul Qofifah


