LPKA Tenggarong Gelar Screening Konseling, Terungkap Banyak Kebutuhan Psikologis Anak Binaan

redaksi

Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Tenggarong melaksanakan kegiatan screening konseling bekerja sama dengan Dosen Bimbingan dan Konseling Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta).

Distriknews.co, Kutai Kartanegara – LPKA Kelas II Tenggarong mengadakan screening konseling terpadu untuk seluruh Anak Binaan. Kegiatan berlangsung di ruang layanan pembinaan dengan dukungan tim dosen Bimbingan dan Konseling Universitas Kutai Kartanegara. Pelaksanaan dilakukan pada Sabtu 27 September 2025. Langkah ini menjadi upaya memperkuat pembinaan melalui pemetaan kondisi mental dan emosional secara langsung.

Proses asesmen meliputi penilaian emosi, perilaku, motivasi belajar dan hubungan sosial. Tim dosen melakukan dialog dan observasi untuk mengidentifikasi kebutuhan psikologis masing-masing anak. Data awal yang terkumpul akan menjadi dasar perencanaan intervensi lanjutan. LPKA menilai pendekatan ilmiah ini penting untuk memastikan pembinaan berjalan sesuai karakter dan kesiapan anak.

Kasi Pembinaan LPKA Tenggarong, Bowo Kustiawan menyatakan screening ini memberi gambaran lebih jelas mengenai kondisi internal Anak Binaan. Ia menekankan pentingnya hasil asesmen sebagai pijakan penyusunan pembinaan yang personal dan terukur. Bowo menyebut kegiatan ini membantu menentukan strategi baru dalam proses pendampingan yang selama ini terus dikembangkan.

Para dosen dari Unikarta mengapresiasi keseriusan LPKA dalam meningkatkan kualitas pembinaan. Mereka menyebut hasil analisis akan dibawa ke tahap lanjutan berupa penyusunan konseling individual. Pendekatan ini dianggap relevan dengan karakteristik remaja dalam masa pembinaan yang memerlukan penanganan lebih spesifik. Pihak kampus menilai kolaborasi ini efektif untuk mendorong perubahan perilaku secara bertahap.

Kegiatan ini juga sejalan dengan ketentuan pembinaan yang direkomendasikan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Setiap LPKA wajib mengutamakan aspek pemenuhan psikologis anak dalam program pembinaan. Sejumlah penelitian menunjukkan penanganan emosional yang tepat membantu menurunkan risiko pelanggaran ulang dan meningkatkan kemampuan adaptasi sosial setelah kembali ke lingkungan masyarakat.

Selain asesmen psikologis, kegiatan turut memetakan kesiapan anak mengikuti program pembinaan lanjutan seperti pelatihan keterampilan, pendidikan dan kegiatan bimbingan kelompok. LPKA berencana menyesuaikan model pendampingan berdasarkan temuan screening agar tidak terjadi kesenjangan antara kebutuhan anak dan program yang diberikan.

Pihak LPKA memastikan kegiatan kolaboratif semacam ini akan dilakukan secara berkala. Mereka menilai hubungan dengan dunia pendidikan tinggi memberi manfaat besar dalam memperkaya metode pembinaan. Melalui konseling terpadu, LPKA Tenggarong menargetkan pola pembinaan yang lebih humanis, profesional dan sesuai perkembangan psikologis anak.

Baca juga

Bagikan:

Tags