Distriknews.co Tenggarong – Menjelang senja di Jalan Ruwan, suasana kampung perlahan berubah. Dari mulut gang hingga ke depan musala, kabel-kabel terentang rapi, lampu-lampu kecil menggantung berjejer, dan ornamen warna-warni menyala ketika malam tiba. Di balik gemerlap itu, ada kerja panjang dan kebersamaan yang terjalin selama enam tahun terakhir.
Kampung Ramadan 1000 Lampu di RT 3 ini bukan proyek besar dengan dukungan anggaran resmi. Ia lahir dari percakapan sederhana warga yang ingin membuat kampungnya lebih hidup saat bulan suci.
“Awalnya kami cuma ingin suasana Ramadan di kampung terasa lebih meriah,” ujar Faidil Fasha, Ketua RT 3, Sabtu (21/2/2026).
Pada tahun pertama, hiasannya masih sederhana. Lampu dipasang seadanya, dekorasi dibuat semampunya. Namun semangat kebersamaan yang tumbuh justru menjadi fondasi yang kuat. Memasuki tahun kedua hingga keenam, ide-ide kreatif bermunculan tanpa henti.
Setiap tahun, tema berganti. Tahun lalu, Jalan Ruwan bercahaya dengan konsep Kampung Lampion. Tahun ini, warga sepakat mengusung tema Kampung Seribu Lampu Ramadan. Jumlah lampu pun ditambah hingga genap 1.000 unit, menyala dari area musala hingga ujung gang.
Tidak hanya lampu yang berubah, tata letak dan konsep dekorasi pun selalu diperbarui. Warga RT 2 dan RT 3 terlibat penuh dalam setiap tahap, mulai dari merancang motif hingga memasang instalasi listrik.
Menariknya, sebagian besar hiasan bukanlah barang baru. Botol suplemen bekas dikumpulkan, dibersihkan, lalu disusun menjadi kaligrafi dan tulisan. Wadah makanan siap saji disulap menjadi ornamen, dipadukan dengan piring plastik. Kain dekorasi dibeli per sentimeter agar hemat, sementara rangkanya menggunakan pipa paralon.
“Hampir semua memanfaatkan barang yang ada. Hanya lampu dan kabel yang beli baru,” kata Faidil.
Namun di balik cahaya yang indah, ada proses panjang selama kurang lebih dua bulan. Pembuatan motif dari botol bekas membutuhkan ketelitian. Instalasi listrik pun harus dilakukan hati-hati, termasuk proses isolasi agar aman dari hujan.
Cuaca menjadi tantangan terbesar. Tahun lalu, hampir setiap malam sekitar 20 lampu harus diganti karena kemasukan air. Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga. Tahun ini, posisi lampu dipasang terbalik agar air tidak mudah masuk. Hasilnya, kerusakan jauh berkurang.
Pendanaan sepenuhnya mengandalkan iuran dan swadaya warga. Jika ada yang memiliki rezeki lebih, mereka membantu membeli lampu atau kabel. Biaya untuk komponen listrik saja mencapai puluhan juta rupiah. Instalasi pun dilakukan gotong royong, dengan beberapa warga secara sukarela menyambungkan listrik dari rumah masing-masing. Saat lampu rumah dinyalakan, lampu hias di depan rumah ikut menyala, menyatu dalam cahaya kebersamaan.
Lampu-lampu itu biasanya tetap menyala hingga tujuh hari setelah Idulfitri sebelum akhirnya dibongkar bersama.
Bagi Faidil, kekuatan utama Kampung Seribu Lampu Ramadan bukan pada jumlah lampunya, melainkan pada semangat warganya.
“Kalau saya saja yang semangat, tidak ada artinya tanpa dukungan warga. Alhamdulillah kekompakan tetap terjaga. Mudah-mudahan semangat ini terus ada setiap menyambut hari besar,” tuturnya.
Warga berencana membuka sayembara tema agar masyarakat luar bisa ikut menyumbangkan ide. Sebab bagi mereka, Ramadan bukan hanya tentang cahaya lampu, tetapi tentang cahaya kebersamaan yang terus dijaga dari tahun ke tahun.


