Distriknews.co, Malang – Sebuah video dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Malang yang terlihat marah dan kemudian “berperan sebagai korban” ramai beredar di media sosial. Warga net menyebut aksi itu sebagai “playing victim,” setelah dosen tersebut dikritik tetangga atas perilaku mengganggu.
Video berdurasi sekitar satu menit ini pertama kali muncul di akun Facebook “Fase Semu”. Dalam tayangan tersebut, dosen tersebut terlihat berdebat sengit dengan tetangga, sambil menyebutkan bahwa tuduhan terhadapnya adalah fitnah dan bahwa ia menjadi korban kesalahpahaman. Ia tampak emosi, mengangkat suara tinggi, dan menunjukkan gestur tangan yang kuat.
Reaksi publik langsung muncul tak lama setelah video tersebar. Beberapa netizen menyebut dosen itu bersikap tidak profesional dan mempertontonkan kemarahan yang dianggap berlebihan. Sedangkan sekelompok lainnya menyatakan bahwa seharusnya ada klarifikasi lengkap sebelum menghakimi.
Pihak universitas belum memberikan pernyataan resmi terkait identitas dosen dan konteks lengkap kejadian. Namun, beberapa mahasiswa UIN Malang mengatakan bahwa dosen tersebut selama ini dikenal memiliki konflik dengan tetangganya seputar gangguan kebersihan dan kebisingan. Perselisihan kecil itu lalu memuncak, munculnya video diduga saat dosen merasa disudutkan.
Dalam video, dosen tersebut juga menyebut bahwa narasi yang tersebar di kelompok tetangga dan media sosial tidak memperlihatkan sisi dirinya yang selama ini dirugikan. Ia menyebut bahwa tingkah laku tetangga dianggap provokatif, yang memicu emosinya. Beberapa penyebar video menuding bahwa pernyataan ini bagian dari strategi untuk membelokkan kritik.
Sampai saat ini belum ada laporan bahwa kejadian ini mencuat ke ranah hukum. Universitas maupun fakultas tempat dosen bekerja belum mengonfirmasi apakah akan mengambil langkah disipliner atau mediasi antar pihak yang berseteru. Ketua warga setempat menyebut bahwa dosen tersebut sudah diberi teguran informal, tapi tidak meluas.
Pengamat pendidikan dan etika akademik memperingatkan bahwa video-video konflik pribadi dosen bisa mempengaruhi reputasi institusi. Mereka menyarankan agar pengajar menjaga sikap dan komunikasi publiknya, karena tanggung jawab dosen tidak hanya di dalam kelas tapi juga sebagai figur publik.
Kasus ini menggambarkan bagaimana sebuah konflik lokal kecil bisa menjadi viral dan memicu debat lebih luas soal profesionalisme, privilege dosen, dan batas privasi. Netizen menunggu langkah kampus dalam menyikapi peristiwa ini agar tidak muncul preseden negatif dalam dunia akademik.


