Distriknews.co KUTAI KARTANEGARA – Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, menghadiri perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang dirangkaikan dengan kegiatan Dharma Santi di Desa Kerta Buana, Kecamatan Tenggarong Seberang, Jumat (4/4/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Pura Paso Pati dengan mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Nusantara Harmoni Indonesia Maju”.
Kehadiran kepala daerah dalam kegiatan ini menjadi bentuk dukungan terhadap kerukunan umat beragama di Kukar, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk. Perayaan berlangsung khidmat dan dihadiri oleh umat Hindu setempat serta tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya, Aulia menyampaikan bahwa Dharma Santi atau yang disebut juga Dharma Sakti merupakan bagian penting dalam rangkaian perayaan Nyepi. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna yang sejalan dengan tradisi silaturahmi yang dikenal luas di masyarakat.
“Hari ini kita menghadiri acara Dharma Sakti yang dilaksanakan umat Hindu yang ada di Desa Kerta Buana. Dharma Sakti ini artinya semacam acara Halal Bihalal setelah dilaksanakan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1948,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Nyepi bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga momentum untuk melakukan introspeksi diri. Melalui keheningan dan perenungan, umat diajak untuk mengevaluasi perjalanan hidup, baik yang telah dilakukan maupun yang akan dijalani ke depan.
“Jadi pada saat Nyepi, orang merenungi dirinya, melihat apa yang sudah dilakukan pada masa lalu, apa yang dilakukan hari ini atau hari esok. Maka ini disempurnakan oleh Dharma Sakti,” jelasnya.
Menurutnya, Dharma Santi menjadi tahap akhir dari proses spiritual tersebut, di mana umat saling memaafkan dan mempererat hubungan sosial. Nilai ini dinilai sangat penting untuk menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Lebih lanjut, Aulia juga menyinggung ajaran Hindu tentang hukum karma yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Ia mengingatkan bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi, sehingga penting bagi setiap individu untuk menyelesaikan kesalahan dengan saling memaafkan.
“Kita pahami bahwa di dalam budaya Hindu itu kita mengenal namanya karma. Ketika orang sudah melakukan kesalahan dan tidak mau minta maaf, nanti yang di atas yang akan membalasnya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa melalui Dharma Santi, umat diajak untuk menghapus kesalahan masa lalu dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih. Hal ini diyakini akan membawa dampak positif bagi kehidupan ke depan.
“Oleh karenanya melalui Dharma Sakti semua saling memaafkan, semua saling bersatu padu. Insya Allah ke depan mereka akan lebih baik lagi,” tutupnya.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara berharap kegiatan seperti ini dapat terus memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan antarumat beragama, serta menjadi pondasi dalam mewujudkan masyarakat yang harmonis dan sejahtera.
Penulis: Muhammad Zailany


