HSA Bersama YSEALI Tekankan Pentingnya Link and Match Kampus dan Industri Melalui Webinar Internasinoal

redaksi

Distriknews.co, SAMARINDA – Sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menyiapkan lulusan yang mampu bersaing di dunia kerja. Upaya tersebut menjadi fokus utama dalam webinar internasional bertajuk “Career Ready: Aligning Education with Industry Needs Through World-of-Work Partnerships” yang digelar melalui kolaborasi YSEALI Professional Fellows Program (PFP) Reciprocal Project dan Hetifah Scholarship Association (HSA).

Kegiatan yang berlangsung secara bilingual dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris itu menghadirkan Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, dosen Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda Diajeng Laili Hidayati, serta Director of Community and Government Relations Hamilton City Schools Amerika Serikat Jennifer L. Oliver. Webinar juga diikuti mahasiswa, alumni, dosen, tenaga kependidikan, hingga perwakilan kampus dan lembaga pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia.

Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi diskusi dan tanya jawab yang membahas kesiapan kerja lulusan, pengembangan kompetensi, serta penguatan kemitraan antara dunia pendidikan dan industri. Diskusi tersebut sekaligus menjadi ruang bertukar gagasan mengenai strategi menghadapi kebutuhan tenaga kerja yang terus berubah.

Ketua HSA terpilih, Tiara Oktaviani Aras, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya webinar tersebut. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor yang menghadirkan perspektif nasional dan internasional memiliki peran penting dalam memperkuat kapasitas generasi muda Indonesia. Ia juga mengajak perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, lembaga pendidikan, dan berbagai mitra strategis untuk terlibat dalam program pengembangan kapasitas yang diinisiasi HSA.

Sementara itu, Ketua HSA yang akan mengakhiri masa baktinya, Olli Chandra, menekankan bahwa pengembangan kapasitas mahasiswa dan alumni tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan akademik. Menurutnya, diperlukan berbagai program pendukung seperti pelatihan keterampilan, mentoring, sertifikasi kompetensi, hingga perluasan jejaring dengan dunia industri.

“Melalui program ini, HSA berkomitmen untuk melaksanakan berbagai program guna memberikan bekal kepada mahasiswa dan alumni dengan kompetensi serta kesiapan yang dibutuhkan di dunia kerja profesional. Selain itu, kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, khususnya dalam meningkatkan daya saing lulusan agar dapat terserap di dunia kerja atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus,” kata Olli.

Dalam pemaparannya, Hetifah Sjaifudian menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus dilakukan secara merata dan tidak terpusat pada satu wilayah. Menurutnya, daerah seperti Kalimantan memiliki karakteristik industri yang berbeda dan membutuhkan pendekatan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing.

“Kita tidak bisa lagi melihat pembangunan sumber daya manusia dengan kacamata yang Jawa-sentris. Indonesia Emas tidak akan tercapai kalau jembatan industri ini hanya kokoh di satu pulau. Wilayah seperti Kalimantan memiliki karakteristik industri yang spesifik mulai dari energi, logistik, hingga transformasi menuju green economy. Institusi pendidikan lokal harus didorong untuk mendesain kurikulum yang responsif terhadap kebutuhan tersebut,” tegas Hetifah.

Dosen UINSI Samarinda, Diajeng Laili Hidayati, menilai tantangan saat ini bukan sekadar menyediakan program atau kesempatan magang, melainkan membangun mentalitas mahasiswa agar lebih aktif dalam mengembangkan diri dan mencari peluang. Ia menegaskan bahwa mahasiswa harus memiliki inisiatif untuk meningkatkan kompetensi dan memperluas jaringan profesional.

“Tantangan terbesar kita hari ini bukan lagi sekadar menyediakan program atau membuka lowongan magang, melainkan bagaimana memicu agar mahasiswa kita mau bergerak secara proaktif. Mahasiswa tidak boleh pasif menunggu informasi datang, tetapi harus aktif mencari peluang, membangun kompetensi, dan memperluas jejaringnya,” ujar Diajeng.

Dari perspektif internasional, Jennifer L. Oliver menekankan pentingnya keterlibatan industri secara langsung dalam proses pendidikan. Menurutnya, pengembangan mikro kredensial, sertifikasi kompetensi, dan peningkatan kapasitas tenaga pengajar menjadi bagian penting untuk menciptakan lulusan yang siap menghadapi kebutuhan dunia kerja modern.

“Kampus perlu membuka diri untuk melibatkan industri secara struktural dalam proses pendidikan. Pengembangan mikro-kredensial, sertifikasi kompetensi, dan peningkatan kapasitas tenaga pengajar menjadi bagian penting dalam menciptakan lulusan yang siap menghadapi kebutuhan dunia kerja modern,” ujar Jennifer.

Melalui kegiatan ini, HSA dan YSEALI berharap semakin banyak kolaborasi yang terbangun antara perguruan tinggi, dunia industri, pemerintah, dan komunitas. Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang adaptif, siap kerja, dan mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah maupun nasional.

Editor: Wanda Iqwatul Q.

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?