Distriknews.co, SAMARINDA – Aula Perpustakaan Kota Samarinda pada Jum’at, 10 Juli 2026 dipenuhi sejumlah pustakawan, mahasiswa, guru, dosen, penggiat komunitas, jurnalis, hingga kalangan masyarakat umum untuk mengikuti forum diskusi. Kegiatan berlangsung sebagai bentuk peringatan Hari Pustakawan Nasional.
Kegiatan itu dilaksanakan oleh Lembaga Studi Sejarah Lokal KSB Kota Samarinda berkolaborasi dengan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kota Samarinda dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda. Tidak hanya sekedar forum diskusi, kegiatan ini juga berisikan materi mengenai pustakawan, pemustaka, tutorial menulis buku, hingga diskusi publik.
Dalam sesi pembuka diawali dengan pemaparan narasumber pertama mengenai kepustakawanan dan sejarah-sejarah kehadiran pustaka serta profesi pustakawan yang disampaikan oleh Inui Nurhikmah, ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kota Samarinda.
Ananda Tsabita, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Mulawarman dalam kesempatannya ia menyampaikan mengenai literasi dan opininya tentang penggunaan buku digital dan buku fisik.
“Literasi itu luas sekali, bukan hanya tentang membaca, tetapi juga kemampuan dalam menggali informasi dengan baik. Saya lebih menyukai menggunakan buku-buku fisik untuk mencari informasi, namun juga tidak menutup kemungkinan menggunakan jurnal-jurnal digital dalam proses penyelesaian skripsi, alasannya karena penelitiannya yang ilmiah dan terbarukan.” ucap Ananda.
Dalam sesi diskusi, salah satu peserta dari kalangan jurnalis membahas mengenai dampak yang ditimbulkan dari perkembangan teknologi, khususnya pada penggunaan Artificial Intellegent (AI) pada platform Chat GPT. Menurutnya Chat GPT sangat memengaruhi kinerja para wartawan saat ini yang lebih fokus dan mengandalkan AI dalam proses mengolah berita, sehingga timbul perspektif dari para narasumber.
Seperti Cinzy Grace, Violinis & Ventrilokuis yang menjadi salah satu narasumber mengatakan “Kita boleh saja menggunakan AI ketika mengalami kesulitan dalam mengerjakan sesuatu, namun harus tetap ada literasi dan dikombinasikan agar daya kreativitas dalam menulis tetap berkembang.” ungkap Cinzy.
Selain itu, Fajar Alam, selaku Ketua Lasaloka-KSB dan akademisi mengatakan bahwa AI mampu mempercepat proses pembelajaran baik di bangku sekolah maupun perkuliahan. AI bisa digunakan sebagai teman diskusi atau asisten dalam mencari referensi ketika menulis buku fiksi maupun non fiksi.
“Walaupun AI mempermudah proses pembelajaran, namun bagi mahasiswa haruslah menguasai materi yang telah diperoleh, bukan hanya sekadar mengumpulkan tugas.” kata Fajar.
Selain sesi diskusi yang menarik, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan biola yang dibawakan oleh Cinzy Grace, dan iringan instrumen yang mampu membawa suasana pagi itu sangat berwarna.
Kegiatan ini mengangkat perjalanan literasi sebagai sebuah proses yang saling berkaitan, dari kegiatan membaca, memahami, dan memanfaatkannya untuk keterampilan hidup. Menulis buku sebagai bentuk ekspresi dan produksi gagasan, hingga pengelolaan pustaka sebagai upaya menjaga keberlanjutan pengetahuan agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Reporter: Wanda Iqwatul Qofifah


