Distriknews.co, TABANG — Kekerasan secara bersama-sama di Kecamatan Tabang, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang menewaskan Ignasius bermula dari perselisihan di sekitar sebuah warung makan. Polisi menyebut persoalan itu dipicu beberapa kali korban melintas menggunakan sepeda motor, salah satunya dengan knalpot brong, sebelum konflik berkembang menjadi kekerasan.
Peristiwa terjadi di sekitar Warung Makan Ibu Sugiati di Jalan Poros PU, Desa Bila Talang, Rabu malam, 5 Agustus 2026.
Sebelum kejadian, dua korban, Lewi dan Ignasius, disebut beberapa kali melintas di depan warung. Menurut polisi, keduanya melintas sekitar tiga hingga empat kali ketika sejumlah orang yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka sedang berkumpul di dalam warung.
Situasi berubah ketika salah seorang tersangka, MF alias O, meninggalkan warung untuk pulang. Dalam perjalanan, MF disebut polisi dicegat oleh kedua korban.
Menurut keterangan yang diperoleh penyidik dari para tersangka, MF merasa terancam kemudian kembali ke warung dan meminta bantuan AP alias A. Keduanya lantas mendatangi korban. Perselisihan kemudian berujung pada pemukulan terhadap Lewi.
Kejadian itu kemudian berkembang. Sejumlah orang lain yang sebelumnya berada di warung ikut mendatangi lokasi. Polisi menyebut terjadi kekerasan secara bersama-sama terhadap Lewi dan Ignasius.
Ignasius kemudian meninggal dunia. Sementara Lewi mengalami luka dan menjalani perawatan.
Kasat Reskrim Polres Kutai Kartanegara AKP Elnath Splendidta Wafiq Gemilang mengatakan, dari pemeriksaan awal, para tersangka mengaku telah merasa kesal sebelum kejadian. Mereka mempersoalkan kebiasaan korban yang disebut beberapa kali menggeber sepeda motor.
“Kalau dari keterangan para pelaku ini, mereka memang kesal karena korban Lewi ini pada dasarnya memang suka seperti itu. Awalnya sudah biasa saja, sudah memaklumi, menggeber-geber motor begitu,” kata Elnath.
Namun, menurut polisi, emosi para tersangka meningkat setelah MF disebut dicegat ketika hendak pulang. Penyidik juga menerima keterangan bahwa kedua korban berada dalam kondisi diduga dipengaruhi minuman keras.
“Ketika pulang, malah dicegat. Dan mereka pun dalam keadaan mabuk. Pada korban ini kemudian muncul rasa emosi untuk membalas dendam,” ujar Elnath.
Keterangan tersebut merupakan bagian dari hasil pemeriksaan terhadap para tersangka dan masih menjadi materi penyidikan kepolisian.
Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar mengatakan kasus tersebut ditangani secara profesional dengan melibatkan Polres Kukar dan bantuan Jatanras Polda Kalimantan Timur. Ia meminta masyarakat tidak mengambil tindakan sendiri dan menyerahkan proses hukum kepada aparat.
“Kita akan tangani ini secara profesional dan kita akan tangani ini dengan cepat. Kemudian, serahkan semua proses ini kepada pihak kepolisian,” ujar Khairul, Senin, 10 Agustus 2026.
Setelah kejadian, kedua korban dibawa ke puskesmas. Namun, nyawa Ignasius tidak tertolong. Lewi masih menjalani perawatan akibat luka yang dialaminya.
Polisi kemudian memburu orang-orang yang diduga terlibat. Pada Ahad, 9 Agustus 2026, Satreskrim Polres Kukar bersama Jatanras Polda Kaltim membagi tim untuk melakukan pencarian di sejumlah lokasi.
Sembilan orang akhirnya diamankan. Tiga orang ditangkap di Samarinda, empat di Tabang, dan dua lainnya di Tenggarong.
Menurut Elnath, para tersangka berusia sekitar 17 hingga 24 tahun. Sebagian besar telah bekerja, antara lain di pabrik dan sebagai pekerja serabutan. Satu orang masih berstatus pelajar.
Hubungan pertemanan di antara para tersangka, kata Elnath, turut membantu polisi mengidentifikasi orang-orang yang diduga terlibat dalam kejadian tersebut.
Sembilan tersangka dijerat Pasal 262 ayat (1), (2), dan (4) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana mengenai kekerasan secara bersama-sama yang mengakibatkan luka hingga meninggal dunia.
Meski telah menetapkan sembilan tersangka, polisi masih mendalami rangkaian kejadian untuk memastikan peran masing-masing orang dalam perkara tersebut.
Khairul juga meminta warga Tabang menahan diri dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.
“Kami harapkan masyarakat di sana sama-sama menahan diri untuk mempercayakan proses ini kepada kami,” kata Khairul.
Reporter: Muhammad Zailany


