PBB Ingatkan Yaman di Ambang Perang Besar, Konflik Berisiko Meluas

redaksi

Kelompok Houthi mengacungkan senjata saat demonstrasi menunjukkan solidaritas untuk Iran dan Lebanon dalam pertempuran melawan Amerika Serikat-Israel, di Ibu Kota Sana'a pada 27 Maret 2026. (Sumber Foto: Kompas.com)

Distriknews.co, INTERNASIONAL – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan kondisi Yaman kembali berada pada titik rawan. Aktivitas militer di sejumlah garis depan meningkat dalam beberapa hari terakhir dan menjadi ancaman terbesar bagi stabilitas negara tersebut sejak kesepakatan gencatan senjata pada 2022.

Dilansir dari Kompas.com, Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg menyampaikan peringatan itu dalam sidang Dewan Keamanan PBB, Kamis (13/8/2026). Ia mengatakan situasi yang sebelumnya relatif membeku kini mulai kembali memanas.

Sejumlah bentrokan dilaporkan terjadi antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pasukan pemerintah di beberapa wilayah, termasuk Marib, Hadramout, Al-Makha atau Mocha.

Pemerintah Yaman yang berbasis di Aden dan diakui secara internasional mengklaim berhasil menggagalkan serangan Houthi di Taiz. Pemerintah juga melaporkan penggunaan artileri dan drone untuk menyerang posisi Houthi di sejumlah wilayah pada Rabu (12/8/2026).

Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman pada hari yang sama menyatakan setiap serangan Houthi akan mendapatkan “respons komprehensif atau tindakan pencegahan”.

Grundberg kemudian menyerukan kepada seluruh pihak untuk segera menurunkan ketegangan dan kembali membangun upaya menuju gencatan senjata yang lebih kuat, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (14/8/2026).

PBB juga menilai konflik Yaman berpotensi berkembang menjadi persoalan regional. Kembalinya serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah dinilai dapat menyeret Yaman ke dalam konflik yang lebih luas yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Grundberg menyebut ancaman tersebut semakin serius karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya aktivitas militer di dalam negeri. Ia juga menekankan pentingnya “de-eskalasi ekonomi” setelah perang saudara selama sekitar satu dekade menghancurkan perekonomian Yaman.

Ia meminta seluruh pihak bekerja sama agar kapal-kapal komersial tetap dapat mengakses pelabuhan Yaman. Kerja sama juga diperlukan untuk membuka kembali jalur ekspor minyak dan penerbangan komersial dari serta menuju Bandara Sanaa yang berada di bawah kendali Houthi.

Menurut Grundberg, kerja sama akan memberikan keuntungan yang lebih besar bagi kedua pihak dibandingkan mempertahankan konfrontasi.

Konflik Yaman bermula pada 2014 ketika kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa. Peristiwa tersebut kemudian memicu intervensi militer koalisi pimpinan Arab Saudi pada 2015 dan berkembang menjadi perang berkepanjangan.

Houthi dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyepakati gencatan senjata pada 2022. Kesepakatan itu sebagian besar masih bertahan, tetapi proses menuju perjanjian permanen untuk mengakhiri perang terhenti pada 2023 akibat meningkatnya ketegangan di kawasan.

Krisis kemanusiaan Yaman kembali memburuk

Peningkatan pertempuran turut memperburuk kondisi kemanusiaan di Yaman. Kepala urusan kemanusiaan PBB Tom Fletcher mengatakan lebih dari separuh penduduk negara tersebut tidak memiliki akses pangan yang memadai.

Sekitar enam juta orang bahkan berada dalam kategori kekurangan pangan “darurat” dan semakin dekat dengan kondisi kelaparan.

Fletcher menyampaikan kondisi tersebut dalam sidang Dewan Keamanan PBB pada Kamis. Perempuan menjadi salah satu kelompok yang mengalami dampak paling berat akibat konflik berkepanjangan.

Menurut Fletcher, tiga perempuan meninggal setiap hari akibat komplikasi kehamilan yang sebenarnya dapat dicegah.

Inggris kecam serangan Houthi

Pemerintah Inggris turut menyoroti meningkatnya kekerasan di Yaman. Inggris menilai Houthi berperan dalam memburuknya krisis kemanusiaan serta mengecam serangan terhadap pelayaran internasional dan Arab Saudi.

Wakil Tetap Inggris untuk PBB Sarah MacIntosh mengatakan tindakan Houthi telah mendorong eskalasi kekerasan serius di kawasan.

MacIntosh meminta Houthi memprioritaskan upaya perdamaian dan mengurangi penderitaan masyarakat Yaman, bukan membawa negara tersebut semakin jauh ke dalam konflik regional.

Ketegangan kembali meningkat setelah Houthi pada Kamis mengklaim bertanggung jawab atas serangan drone terhadap sebuah kilang minyak di Provinsi Jazan, Arab Saudi.

Sumber militer Houthi mengatakan kepada Reuters bahwa serangan itu merupakan respons terhadap tindakan Arab Saudi yang mereka nilai melanggar wilayah udara dan kedaulatan Yaman di Provinsi Saada dan Hajjah.

Serangan terhadap kilang minyak tersebut menjadi bagian terbaru dari rangkaian serangan drone, serangan udara, dan rudal yang dilakukan oleh kedua pihak.

Intensitas serangan meningkat sejak Houthi mengumumkan blokade terhadap pelayaran Arab Saudi di Laut Merah pada 20 Juli 2026.

Sumber: Kompas.com

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?