Distriknews.co, LOA KULU — Ribuan warga berkumpul dalam Gelar Budaya Festival 1.000 Tumpeng yang digelar Kepolisian Sektor (Polsek) Loa Kulu di Lapangan Sepak Bola Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara (Kukar), Selasa (25/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Selain menjadi ajang perayaan, festival ini sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkuat kebersamaan serta menjaga keberagaman seni dan budaya yang tumbuh di Kecamatan Loa Kulu.
Festival secara resmi dibuka Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji bersama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin. Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong dan pemotongan tumpeng sebagai simbol dimulainya rangkaian kegiatan.
Sejumlah pejabat turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Plt Kepala Dinas Pariwisata Kukar Awang Agus Dharmawan yang mewakili Bupati Kukar, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar Heriansyah, Camat Loa Kulu Adriansyah, jajaran Forkopimcam, pelaku seni, paguyuban hingga masyarakat.
Dalam sambutan Bupati Kukar yang dibacakan Awang Agus Dharmawan, pemerintah daerah menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan festival. Keberagaman seni dan budaya yang berkembang di masyarakat dinilai menjadi kekuatan sekaligus aset yang harus terus dilestarikan.
“Budaya bagi kita semua bukan sekadar warisan masa lalu untuk dikenang, melainkan benteng karakter bangsa dan fondasi pembangunan kemasyarakatan yang bernilai tambah,” demikian sambutan Bupati Kukar.
Pemkab Kukar, lanjutnya, terus mendorong pelestarian budaya berbasis kearifan lokal melalui berbagai program. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan penggiat seni dan budaya, stimulus bagi komunitas kreatif, pembinaan kelembagaan hingga penyediaan ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kreativitas seni dan budaya.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menilai keberagaman masyarakat di Tanah Kutai merupakan kekuatan yang dapat menjadi modal penting dalam membangun daerah. Menurutnya, Festival 1.000 Tumpeng memiliki pesan persatuan yang kuat.
“Seribu tumpeng itu artinya adalah tumpeng kebersamaan. Di Tanah Kutai banyak suku yang ada dan semuanya bersatu padu, bergotong royong, guyup rukun, dan mengedepankan kerja sama yang baik,” ujar Seno Aji.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan generasi muda dalam berbagai kegiatan seni dan budaya. Menurutnya, semakin banyaknya sanggar seni yang melibatkan anak-anak muda menunjukkan adanya regenerasi dalam upaya mempertahankan kebudayaan.
“Saat ini sudah sangat baik, banyak sanggar-sanggar yang mulai tumbuh dengan anak-anak muda belajar seni budaya. Ini membuat kita semakin semangat untuk melestarikan budaya bangsa,” katanya.
Sementara itu, Kapolsek Loa Kulu AKP Hari Supranoto mengatakan Festival 1.000 Tumpeng merupakan bagian dari rangkaian pagelaran seni budaya yang melibatkan 18 paguyuban di Kecamatan Loa Kulu. Pelaksanaan kegiatan dibagi dalam dua zona agar seluruh paguyuban mendapatkan ruang untuk menampilkan kesenian mereka.
“Semua paguyuban yang ada di Loa Kulu kita bagi dua. Zona satu ada sembilan paguyuban, kemudian zona dua ada sembilan paguyuban lagi dan ditutup dengan Festival Seribu Tumpeng,” jelas Hari.
Zona pertama berlangsung di wilayah Loa Kulu dengan melibatkan sembilan paguyuban selama tiga malam. Sementara zona kedua akan digelar di Margahayu pada 28 hingga 30 Agustus dengan melibatkan sembilan paguyuban lainnya.
Menurut Hari, seluruh paguyuban tersebut kini berhimpun dalam wadah Paguyuban Turanggaseta Aji Pangeran Sinum Panjimendapa Ing Martapura. Kehadiran festival juga menjadi bentuk kontribusi masyarakat Jawa yang hidup berdampingan dengan berbagai kelompok masyarakat lainnya di Loa Kulu.
Pemilihan tumpeng sebagai bagian utama kegiatan juga bukan tanpa alasan. Menurut Hari, tumpeng memiliki filosofi yang erat dengan persatuan dan keberagaman masyarakat.
“Simbolis tumpeng itu menyatukan semua. Tidak melihat kamu sukunya apa, agamamu apa, latar belakangmu apa, datangmu dari mana. Ketika kita bicara tumpeng, semua masuk,” tegasnya.
Pelaksanaan festival tersebut turut menunjukkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat. Kegiatan didukung berbagai pihak, mulai dari masyarakat, dunia pendidikan, paguyuban, pelaku seni, instansi pemerintah hingga perusahaan.
Untuk penyelenggaraan tahun ini, pembiayaan masih mengandalkan swadaya masyarakat. Hari berharap Festival 1.000 Tumpeng dapat berkembang menjadi agenda tahunan Kabupaten Kukar sehingga ke depan bisa mendapatkan dukungan yang lebih besar.
Festival tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, memperkenalkan seni budaya kepada generasi muda serta menunjukkan bahwa keberagaman masyarakat Loa Kulu dapat menjadi kekuatan ketika dibangun melalui gotong royong dan kebersamaan.
Reporter: Muhammad Zailany


