Distriknews.co, Kutai Kartanegara – Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Tenggarong Seberang, Elwansyah Elham, menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi IV DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Selasa (26/8/2025). Rapat ini bertempat di Ruang Banmus DPRD Kukar dan dihadiri oleh berbagai pihak terkait, termasuk Kementerian Agama Kukar, perwakilan pondok pesantren, TRC-PPA Kaltim, psikiater, psikolog, tim ad-hoc, dan undangan lainnya.
Dalam kesempatan itu, Elwansyah menegaskan bahwa kehadiran pihaknya bukan untuk memperkeruh suasana, melainkan sebagai upaya untuk islah atau perbaikan, serta rekonsiliasi demi kemajuan pendidikan di Kukar.
“Tujuan utama kami datang ke sini untuk islah, memperbaiki dan memperbaharui. Kedua, untuk rekonsiliasi,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya membuka diri untuk berdialog dan menyambut baik forum yang difasilitasi DPRD Kukar. Ia juga memberikan apresiasi kepada Ketua Komisi IV, Andi Faisal, atas semangat dan keterbukaannya dalam memimpin rapat yang berlangsung dengan suasana kondusif.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pimpinan Komisi IV yang memberikan ruang diskusi yang produktif,” ungkapnya.
Elwansyah juga menyampaikan klarifikasi terhadap anggapan bahwa Ponpes Tenggarong Seberang bersifat eksklusif. Menurutnya, hal itu muncul karena sejumlah ustaz di lingkungan ponpes aktif dalam berbagai organisasi dan lembaga, baik di legislatif maupun keagamaan.
“Ada ustaz kami yang pernah atau sedang menjadi anggota DPRD, Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren, bahkan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama selama tiga periode,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa keberadaan para ustaz tersebut dalam berbagai posisi strategis bukanlah bentuk eksklusivitas negatif, melainkan kontribusi nyata dalam pembangunan masyarakat dan pendidikan.
“Kalau itu digiring ke opini negatif, saya tidak tahu. Tapi ini bentuk kiprah nyata,” tegas Elwansyah.
Dalam penjelasannya, Elwansyah juga memperkenalkan sistem etika yang diterapkan di ponpes bernama “Dedi Asyik”, yang merupakan singkatan dari serangkaian langkah manajerial dan edukatif.
“Dedi itu singkatan dari Diagnosa, Evaluasi, Desain ulang, dan Implementasi. Sedangkan Asyik berarti akomodatif terhadap masukan siapa pun demi perbaikan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia berharap melalui forum ini semua pihak bisa menemukan titik temu dan solusi terbaik secara selektif, rekomendatif, serta kompetitif.
“Mari kita melangkah bersama menuju rekonsiliasi. Kami siap terbuka demi pendidikan yang lebih baik di Kukar,” tutupnya.



