Manuver Baru Utang Whoosh, Purbaya Siap Terbang ke China

redaksi

Distriknews.co, Jakarta – Pemerintah kembali menyoroti kewajiban finansial Kereta Cepat Jakarta Bandung di tengah agenda pembahasan restrukturisasi utang dengan China. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan kesediaannya untuk ikut dalam pertemuan dengan pihak China, namun menegaskan biaya perjalanan harus ditanggung pihak Danantara. Ia menyebut rencana itu akan dibahas dengan Rosan Perkasa Roeslani dalam pertemuan berikutnya.

Total kewajiban proyek Whoosh tercatat mencapai Rp120,38 triliun. Sebagian besar pendanaannya berasal dari pinjaman China Development Bank dengan bunga dua persen per tahun. Pembengkakan biaya menjadikan investasi meningkat dari 6 miliar dolar AS menjadi 7,2 miliar dolar AS. Angka ini menciptakan cost overrun sekitar Rp20 triliun yang kini menjadi fokus negosiasi.

Delegasi Indonesia dijadwalkan dipimpin Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Agus Harimurti Yudhoyono. Namun jadwal keberangkatan belum ditentukan. Dony Oskaria dari Danantara menjelaskan bahwa tim pendahulu akan berangkat lebih dulu. Ia menegaskan pemerintah ingin memastikan posisi negosiasi kuat sebelum duduk bersama pihak China.

Rosan menyatakan pembahasan final akan dilakukan bersama Purbaya setelah tahap awal rampung. Kementerian Keuangan disebut terus menyempurnakan struktur proposal yang dibawa ke Beijing. Rosan menilai koordinasi ini penting agar kesepakatan tidak merugikan Indonesia. Ia memastikan komunikasi dengan Purbaya berjalan intensif.

Purbaya menyebut kepentingan utama ialah memperbaiki kondisi keuangan Whoosh. Ia mengingatkan bahwa proses negosiasi tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Pemerintah disebut solid dalam menyusun langkah yang proporsional. Ia menekankan bahwa keputusan akhir menunggu kesepakatan kedua pihak di meja perundingan.

Skema pembayaran cost overrun sebelumnya disepakati dengan komposisi 60 persen konsorsium Indonesia dan 40 persen konsorsium China. Presiden Prabowo Subianto telah menyampaikan komitmen pemerintah untuk memenuhi kewajiban sekitar Rp1,2 triliun per tahun. Pernyataan itu membuka kembali diskusi soal peran anggaran negara dalam menopang proyek tersebut.

Dony menambahkan bahwa pembahasan dengan China tidak dilakukan tahun ini. Pemerintah membutuhkan waktu untuk menyiapkan detail argumen, termasuk proyeksi pendapatan jangka panjang. Ia menilai kesiapan teknis dan finansial menjadi elemen penting agar hasil negosiasi lebih optimal.

Pemerintah ingin memastikan bahwa restrukturisasi tidak hanya menyelesaikan masalah jangka pendek. Penguatan arus kas dan penyesuaian tenor pinjaman menjadi opsi yang sedang dianalisis. Keputusan strategis akan ditentukan setelah seluruh pihak sepakat pada formula yang memberikan manfaat maksimal bagi Indonesia.

Baca juga

Bagikan:

Tags

Apa yang Anda cari?