Distriknews.co Tenggarong – Aktivitas perdagangan di lantai dua Tangga Arung Square Tenggarong masih menunjukkan geliat, meskipun jumlah pengunjung cenderung fluktuatif pasca Lebaran. Salah satu pedagang, Pak Tarkib, pemilik Warung Rasya Tahu Campur Lamongan, mengaku penjualannya relatif stabil meski sempat mengalami penurunan.
Pak Tarkib mengatakan, dirinya mulai berjualan di lokasi tersebut sejak Januari 2026. Pada awal pembukaan, kondisi pasar cukup ramai, terlebih saat bulan Ramadan hingga menjelang Lebaran.
“Saya mulai jualan sekitar Januari, awal-awal cukup ramai. Apalagi waktu puasa, bisa dapat penjualan sekitar 15 porsi ke atas. Sampai Lebaran juga masih ramai,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Namun, setelah momen Lebaran, ia sempat menghentikan aktivitas selama dua hari. Saat kembali berjualan, kondisi pengunjung masih cukup baik meskipun tidak seramai sebelumnya.
“Setelah Lebaran sempat libur dua hari, lalu jualan lagi sekitar tiga hari. Sampai sekarang masih lumayan, walaupun kadang naik turun,” katanya.
Sebelum menempati Tangga Arung Square, Pak Tarkib memiliki perjalanan panjang dalam berdagang. Ia mengawali usaha di kawasan bawah dekat pasar sejak akhir 2012, kemudian berpindah ke Jalan Ganesha dekat Taman Pintar, hingga sempat berjualan di area terminal.
“Dulu saya jualan di bawah dekat pasar, itu sudah lama sejak 2012. Lalu pindah ke Jalan Ganesha, sempat sepi, kemudian ke terminal, baru akhirnya dapat tempat di sini,” jelasnya.
Menurutnya, lokasi saat ini memberikan peningkatan penjualan dibandingkan tempat sebelumnya, meskipun kondisi setiap pedagang bisa berbeda.
“Kalau dibandingkan sebelumnya, di sini lumayan lebih baik. Penjualan ada peningkatan, walaupun tiap pedagang mungkin beda-beda. Kalau saya pribadi masih cukup,” ungkapnya.
Untuk menu yang ditawarkan, Warung Rasya menyediakan berbagai pilihan seperti tahu campur seharga Rp17.000, tahu tek-tek Rp13.000, mie ayam Rp13.000, dan gado-gado Rp15.000. Ia juga menambahkan bahwa menu ayam baru dijual belakangan ini sebagai variasi dagangan.
Meski demikian, ia mengakui sempat merasakan penurunan jumlah pengunjung akibat isu yang ramai dibicarakan beberapa waktu lalu, meskipun tidak mengetahui secara pasti penyebabnya.
“Memang sempat terasa pengunjung agak berkurang, sekarang juga kadang naik turun, tidak menentu. Tapi secara umum masih stabil,” katanya.
Terkait kewajiban pembayaran kepada pemerintah, Pak Tarkib mengaku hingga kini belum menerima kejelasan resmi. Ia hanya mengetahui adanya rencana tarif sekitar Rp600 per meter persegi, namun belum ada penagihan.
“Katanya sekitar Rp600 per meter. Kalau ukuran tempat ini 4×6 meter, berarti sekitar Rp14.400. Tapi belum jelas itu per bulan atau per tahun, dan belum ada penagihan resmi,” jelasnya.
Selain itu, kebutuhan operasional seperti listrik, air, dan kebersihan saat ini masih ditanggung sendiri oleh para pedagang. Ia berharap pemerintah segera memberikan kepastian terkait sistem pengelolaan dan pembayaran di kawasan tersebut.
“Kami masih menunggu kejelasan dari pihak terkait, terutama soal pembayaran dan pengelolaan ke depan,” tutupnya.
Penulis: Muhammad Zailany


