Kasus Campak di Kukar Meningkat, Dinkes Catat 45 Kasus Positif hingga Pekan ke-20

redaksi

Distriknews.co, KUTAI KARTANEGARA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat peningkatan kasus campak sepanjang tahun 2026. Hingga minggu ke-20, sebanyak 45 kasus telah terkonfirmasi positif campak berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Meski demikian, hingga kini belum ditemukan kasus rubella yang terkonfirmasi di Kukar,.
Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinkes Kukar, Budy Setiawan, mengatakan sejak minggu pertama hingga minggu ke-20 tahun 2026 terdapat 274 kasus suspek campak dan rubella. Dari jumlah tersebut, sebanyak 234 spesimen telah dikirim ke laboratorium dan 84 spesimen telah keluar hasil pemeriksaannya.

“Dari 84 hasil pemeriksaan laboratorium yang sudah keluar, sebanyak 45 kasus dinyatakan positif campak, tidak ada yang terkonfirmasi rubella, sedangkan 39 kasus lainnya hasilnya negatif,” ujar Budy saat di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara, Senin (3/8/2026).

Ia menjelaskan, kasus positif campak tersebar di empat kecamatan, yakni Tenggarong, Samboja, Loa Kulu, dan Muara Badak. Sementara pasien suspek paling banyak menjalani perawatan di RSUD Aji Muhammad Parikesit sebanyak 115 kasus, disusul RS Abadi Samboja 75 kasus dan Puskesmas Loa Ipuh sebanyak 35 kasus.

Menurut Budy, tren mingguan menunjukkan lonjakan tertinggi terjadi pada minggu ke-16 dengan total 29 kasus suspek. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Dinkes karena campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

“Campak merupakan penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Karena itu kami terus mengintensifkan cakupan imunisasi agar penyebaran penyakit ini bisa ditekan,” katanya.

Selain memperkuat imunisasi, Dinkes Kukar juga terus melakukan penyelidikan epidemiologi setiap kali ditemukan kasus suspek campak. Meski terdapat kebijakan efisiensi anggaran, pengawasan terhadap kasus tetap berjalan melalui petugas surveilans di masing-masing puskesmas.

“Penyelidikan lapangan sekarang lebih banyak dilakukan oleh petugas surveilans di puskesmas. Selanjutnya hasilnya kami bahas bersama melalui Zoom Meeting yang melibatkan Dinas Kesehatan, puskesmas, tenaga pelayanan kesehatan, hingga dokter spesialis anak apabila diperlukan,” jelas Budy.

Apabila hasil penyelidikan mengarah pada dugaan kuat campak, petugas akan melakukan pengambilan sampel melalui pemeriksaan PCR atau swab untuk dikirim ke laboratorium sebagai penegakan diagnosis.

Budy mengimbau masyarakat tidak hanya mengandalkan imunisasi, tetapi juga menjaga daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup sehat seperti mengonsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, tidak merokok, serta menghindari minuman beralkohol.

“Apabila ada anggota keluarga yang mengalami demam, muncul ruam di kulit, mata merah, nafsu makan menurun, atau sulit menelan, segera bawa ke fasilitas kesehatan. Penanganan dini sangat penting agar penyebaran penyakit tidak semakin meluas,” pungkasnya.

Reporter: Muhammad Zailany

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?