Distriknews.co, KUTAI KARTANEGARA – Perumda Air Minum Tirta Mahakam Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memastikan kondisi air Sungai Mahakam di wilayah Tenggarong dan sekitarnya masih aman digunakan sebagai sumber air baku.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mahakam Kukar, Suparno, mengatakan hasil pemantauan kadar klorida di wilayah Loa Janan masih berada di kisaran 26 parts per million (ppm). Angka tersebut masih jauh di bawah batas 250 ppm yang menjadi acuan dalam proses produksi air.
“Di Loa Janan, kadar klorida masih di bawah 26 ppm. Jadi, sejauh ini masih dalam kondisi aman untuk dikonsumsi dan digunakan dalam proses produksi air,” kata Suparno, Senin (14/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul kondisi air Sungai Mahakam di kawasan Tenggarong yang secara kasatmata mulai terlihat kehijauan. Kondisi itu kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai kemungkinan masuknya air laut ke wilayah hulu Sungai Mahakam.
Suparno menegaskan, hingga saat ini belum ada informasi yang menunjukkan air laut telah masuk ke wilayah Tenggarong. Berdasarkan informasi yang diterimanya, indikasi masuknya air laut baru berada di sekitar kawasan Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu).
“Kalau air laut masuk ke Tenggarong, sejauh ini belum. Informasinya baru sampai di sekitar Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu). Informasi dari PDAM Samarinda juga kurang lebih sama,” ujarnya.
Meski demikian, Suparno mengatakan perubahan warna air Sungai Mahakam tidak dapat dijadikan dasar untuk memastikan telah terjadi pencampuran dengan air laut. Pihaknya tetap akan melakukan pengujian untuk mengetahui kondisi air secara lebih akurat, khususnya melalui pemeriksaan kadar klorida.
“Saya belum bisa memastikan apakah perubahan warna tersebut merupakan campuran dari air laut atau bukan. Namun, berdasarkan kadar klorida yang ada, sejauh ini masih aman untuk dikonsumsi dan diproduksi,” jelasnya.
Menurut Suparno, kadar klorida menjadi salah satu parameter penting yang terus dipantau dalam menentukan kelayakan air baku untuk diproses menjadi air bersih. Setiap instalasi pengolahan air atau WTP milik Perumda Air Minum Tirta Mahakam memiliki fasilitas untuk melakukan pengujian kondisi air baku.
Dengan fasilitas tersebut, kondisi air yang akan digunakan dalam proses produksi dapat dipantau secara berkala. Pengujian tidak hanya dilakukan untuk mengetahui kondisi umum air, tetapi juga mencakup kadar klorida.
“Iya. Setiap instalasi pengolahan air memiliki fasilitas untuk menguji kondisi air, termasuk kadar klorida, sehingga kualitas air baku dapat terus dipantau,” katanya.
Namun, Perumda Air Minum Tirta Mahakam telah menyiapkan langkah tegas apabila kadar klorida mengalami peningkatan hingga melewati ambang batas yang ditetapkan. Jika kadar klorida mencapai lebih dari 250 ppm, produksi air akan dihentikan sementara.
“Kalau kadar kloridanya sudah di atas 250 ppm, terpaksa produksi harus dihentikan sementara,” tegas Suparno.
Menurutnya, penghentian produksi dilakukan untuk menjaga kualitas air sekaligus melindungi masyarakat dari potensi dampak yang dapat ditimbulkan apabila air dengan kadar garam terlalu tinggi tetap diproduksi dan didistribusikan.
“Tidak mungkin kami memproduksi air yang sudah memiliki kadar garam terlalu tinggi, karena kami khawatir akan menimbulkan dampak lain. Jangan sampai air yang diproduksi justru berpotensi menimbulkan masalah kesehatan,” katanya.
Sebaliknya, apabila kadar klorida masih berada di bawah 250 ppm, proses produksi tetap akan dilakukan. Kondisi tersebut membuat pemantauan kualitas air baku menjadi hal penting, terutama di tengah kemarau yang menyebabkan debit sejumlah sungai dan anak sungai mengalami penurunan.
Suparno mengakui, hingga saat ini Perumda Air Minum Tirta Mahakam belum memiliki sumber air baku alternatif untuk wilayah yang dikelolanya apabila kondisi Sungai Mahakam tidak memungkinkan digunakan.
“Untuk sementara, di beberapa tempat memang ada sumber air baku alternatif. Namun, untuk wilayah kami belum tersedia. Untuk saat ini, Sungai Mahakam masih menjadi sumber air baku yang diprioritaskan,” ungkapnya.
Karena itu, pihaknya berharap hujan segera turun, khususnya di wilayah hulu Sungai Mahakam. Peningkatan curah hujan di kawasan hulu diharapkan dapat meningkatkan debit sungai sehingga memperlambat atau menghambat intrusi air laut menuju wilayah yang lebih jauh ke hulu.
“Insyaallah, mudah-mudahan masih aman. Karena itu, kami berharap dalam beberapa minggu ke depan ada curah hujan di wilayah hulu. Dengan adanya hujan, diharapkan debit air Sungai Mahakam meningkat sehingga dapat menghambat intrusi air laut masuk lebih jauh ke Sungai Mahakam,” tuturnya.
Di tengah kondisi tersebut, Suparno mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan menyiapkan cadangan air di rumah. Imbauan itu disampaikan sebagai langkah antisipasi apabila sewaktu-waktu produksi maupun distribusi air mengalami gangguan akibat perubahan kondisi air baku.
“Masyarakat juga kami imbau untuk menampung air sebagai persediaan. Apabila sewaktu-waktu produksi atau distribusi tidak dapat dilakukan, masyarakat masih memiliki cadangan air,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat memahami apabila kontinuitas distribusi air belum dapat berlangsung maksimal selama 24 jam. Menurutnya, kondisi tersebut dapat terjadi apabila Perumda harus menyesuaikan produksi dengan kualitas air baku yang tersedia.
“Keinginan kami tentu distribusi dapat berjalan secara maksimal. Namun, ada kondisi tertentu yang apabila distribusi tetap dilakukan justru dapat menimbulkan dampak lain,” kata Suparno.
Hingga Senin (14/9/2026), pihaknya juga belum menerima laporan pelanggan terkait perubahan kualitas air. Untuk wilayah Kota Tenggarong dan sekitarnya, Suparno memastikan kondisi masih aman berdasarkan pemantauan yang dilakukan.
“Alhamdulillah, sejauh ini belum ada laporan. Untuk wilayah Kota Tenggarong dan sekitarnya, kondisinya masih aman,” pungkasnya.
Reporter: Muhammad Zailany


