Pilah Sampah dari Rumah, KKNMAs Kelompok 58 Hadirkan Program EcoDESA

redaksi

Mahasiswa KKNMAs Kelompok 58 Edukasi Warga Tegalgondo tentang Pemilahan Sampah dari Rumah (14/08/2026).

Distriknews.co TEGALGONDO, 14 Agustus 2026 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (KKNMAs) Kelompok 58 menggelar program EcoDESA sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah sejak dari rumah. Kegiatan yang dilaksanakan bersama ibu-ibu setempat tersebut berlangsung dengan antusias dan diwarnai diskusi mengenai berbagai persoalan sampah yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Mengusung tema “Pilah Sampah dari Rumah, Wujudkan Desa yang Bersih dan Sehat”, EcoDESA dirancang sebagai kegiatan penyuluhan dan edukasi mengenai pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Program ini dilatarbelakangi oleh masih tercampurnya sampah rumah tangga, perlunya peningkatan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah, serta masih banyaknya sampah yang sebenarnya memiliki nilai guna tetapi berakhir sebagai limbah.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada dua jenis sampah utama, yakni organik dan anorganik. Sampah organik meliputi sisa makanan, kulit buah, sayuran, daun kering, dan sisa tanaman. Sedangkan sampah anorganik antara lain botol plastik, tutup botol, kaleng, kaca, dan berbagai kemasan plastik.

Selain mengenali jenis sampah, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai langkah sederhana yang dapat diterapkan di rumah. Pemilahan dimulai dengan mengenali jenis sampah, memisahkannya ke dalam wadah yang berbeda, membersihkan sampah anorganik apabila memungkinkan, kemudian memanfaatkannya kembali, mengolahnya, atau menyalurkannya untuk didaur ulang.

Mahasiswa KKNMAs juga menjelaskan dampak berantai dari kebiasaan memilah sampah. Ketika masyarakat mulai memilah dari rumah, sampah organik dan anorganik tidak lagi tercampur sehingga lebih mudah dikelola dan dimanfaatkan. Pada akhirnya, jumlah sampah yang dibuang ke lingkungan dapat berkurang, lingkungan menjadi lebih bersih dan sehat, risiko pencemaran dapat ditekan, serta sampah yang memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan.

Muhammad Arief Akbar, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, menegaskan bahwa edukasi lingkungan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi harus diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari.

“Adanya edukasi bukan saja bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang teorinya, namun supaya teori atau ilmu tersebut bisa diamalkan dan sustain hingga kapan pun. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Dan kalau bukan sekarang, kapan lagi?” ujar Arief.

Hal senada disampaikan Mutia Hidayah, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ogan Komering Ulu Timur. Menurutnya, keberhasilan EcoDESA tidak hanya diukur dari tersampaikannya materi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk menerapkannya secara berkelanjutan.

“Kami berharap kegiatan ini bukan hanya menjadi kegiatan sosialisasi, tetapi juga bisa menjadi langkah kecil yang terus dilakukan oleh masyarakat di rumah. Karena pengelolaan sampah sebenarnya bisa dimulai dari hal sederhana, yaitu memilah sampah dan memanfaatkan kembali sesuatu yang masih bisa digunakan,” ujar Mutia.

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Ibu-ibu setempat tidak hanya mengikuti penyampaian materi, tetapi juga turut berbagi pengalaman dan keresahan mengenai persoalan sampah yang mereka temui di lingkungan sekitar. Interaksi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk saling bertukar pandangan mengenai langkah sederhana yang dapat dilakukan dari tingkat rumah tangga.

Melalui EcoDESA, mahasiswa KKNMAs Kelompok 58 berharap kebiasaan memilah sampah dapat mulai tumbuh dari lingkungan keluarga dan berkembang menjadi kesadaran bersama di masyarakat. Program ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendorong terciptanya lingkungan desa yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Penulis: Muhammad Arief Akbar

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?