Distriknews.co, TENGGARONG – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) menggelar aksi demonstrasi menyoroti persoalan pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Aksi tersebut digelar Selasa (18/8/2026) dengan membawa sejumlah tuntutan kepada pihak PLN.
Ketua BEM Unikarta, Zulkarnain, mengatakan aksi tersebut menjadi bentuk respons mahasiswa terhadap kondisi kelistrikan yang dinilai telah berdampak luas terhadap aktivitas masyarakat. Momentum setelah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI juga menjadi alasan mahasiswa mengangkat isu tersebut.
Menurutnya, masyarakat Kukar belum sepenuhnya merasakan kemerdekaan apabila masih menghadapi persoalan pemadaman listrik yang berulang. Ia menilai kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi dan pelayanan publik.
“Kami sampaikan bahwa masyarakat Kutai Kartanegara hari ini belum benar-benar merdeka. Belum merdeka dari pemadaman listrik bergilir, belum merdeka dari keadilan, belum merdeka dari rasa empati, dan ketidakberpihakan pemerintah kepada masyarakat Kutai Kartanegara,” ujar Zulkarnain.
Ia menyebut mahasiswa menerima banyak keluhan dari masyarakat terkait dampak pemadaman. Sejumlah pelaku UMKM disebut mengalami penurunan pendapatan selama listrik padam, sementara mahasiswa juga kesulitan menjalankan aktivitas akademik yang membutuhkan pasokan listrik.
Tidak hanya sektor ekonomi dan pendidikan, Zulkarnain juga menyoroti aspek keselamatan pengguna jalan. Menurutnya, pemadaman listrik dapat menyebabkan lampu lalu lintas ikut tidak berfungsi sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan.
“Mulai dari UMKM yang selama periode pemadaman itu pendapatannya berkurang, mahasiswa yang sedang progres kegiatan itu tidak bisa mencetak dan segala macam. Terus kemudian lampu merah yang pada saat pemadaman tersebut lampunya mati, dan itu berdampak serta berpotensi menimbulkan kecelakaan,” katanya.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga meminta penjelasan mengenai penyebab pemadaman bergilir. Berdasarkan komunikasi dengan pihak PLN, terdapat faktor internal dan eksternal yang memengaruhi kondisi kelistrikan. Faktor eksternal di antaranya cuaca buruk serta gangguan yang disebabkan hewan seperti tupai pada jaringan listrik.
Zulkarnain mengatakan penjelasan tersebut tetap perlu diikuti langkah konkret dari PLN. Menurutnya, gangguan memang dapat terjadi, tetapi dampak yang dirasakan masyarakat harus diminimalkan melalui perbaikan jaringan dan sistem mitigasi yang lebih baik.
“Harapannya ini benar-benar bisa dijalankan, bukan hanya sekadar berjanji. Karena jujur saja, tiap kami melakukan aksi demonstrasi, selalu diberi janji, selalu diberi janji. Harapannya ini benar-benar bisa dijalankan,” tegasnya.
Mahasiswa juga mendorong adanya kompensasi bagi masyarakat yang terdampak pemadaman. Zulkarnain menyebut kompensasi tidak harus diberikan dalam bentuk uang tunai, tetapi dapat berupa keringanan pembayaran maupun tambahan manfaat pada pelanggan listrik.
“Idealnya memang berdasarkan aturan yang berlaku, harusnya ada kompensasi. Walaupun itu bukan bentuk tunai,” ujarnya.
Ia mencontohkan, kompensasi dapat diberikan melalui penambahan nilai token listrik. Jika masyarakat membeli token senilai Rp100 ribu, misalnya, nilai yang diterima pelanggan dapat lebih besar. Alternatif lainnya berupa pengurangan nilai tagihan listrik bagi pelanggan pascabayar.
Menurut Zulkarnain, pihak PLN ULP Tenggarong telah menyampaikan bahwa persoalan kompensasi akan dikoordinasikan dengan pengurus pusat. Mahasiswa berharap komunikasi tersebut tidak berhenti pada pembahasan, tetapi benar-benar menghasilkan kebijakan yang dapat dirasakan pelanggan.
“Harapannya ini benar-benar bisa dilakukan karena masyarakat Kutai Kartanegara sangat menunggu hal itu terjadi,” katanya.
Sementara itu, Manajer PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Tenggarong, Hasmon Karaeng, mengatakan pihaknya terus berupaya menjaga keandalan jaringan listrik. Menurutnya, petugas PLN bekerja selama 24 jam untuk melakukan penanganan gangguan maupun pemeliharaan jaringan.
“Tugas kami memang tidak boleh ada padam untuk pelayanan listrik. Yang bisa kami lakukan, kami berupaya 24 jam untuk melakukan perbaikan dan menjaga keandalan sistem kami,” jelas Hasmon.
Ia menjelaskan terdapat dua jenis pemadaman, yakni pemadaman yang direncanakan untuk pemeliharaan dan pemadaman akibat gangguan. Untuk pemadaman terencana, PLN dapat menyampaikan informasi kepada pelanggan mengenai waktu listrik padam dan perkiraan kembali menyala.
Sementara gangguan akibat kondisi tertentu tidak selalu dapat diprediksi. Cuaca buruk, pohon tumbang hingga hewan yang masuk ke jaringan dapat menyebabkan gangguan secara tiba-tiba. Kondisi tersebut membuat proses penanganan harus dilakukan setelah sumber gangguan ditemukan.
“Kalau gangguan, itu terjadi tiba-tiba, seperti karena cuaca buruk atau kondisi lainnya. Misalnya tiba-tiba ada pohon tumbang, atau kadang hewan yang menyebabkan gangguan. Hal-hal ini tidak bisa kita prediksi,” tutur Hasmon.
Ia mengatakan PLN juga melakukan berbagai langkah pencegahan, termasuk memasang pelindung pada jaringan dan pengaman isolator untuk mencegah hewan masuk ke bagian jaringan listrik. Namun, ketika gangguan terjadi, petugas tetap membutuhkan waktu untuk mencari sumber masalah sekaligus melakukan perbaikan.
Hasmon memastikan pihaknya tidak mengabaikan keluhan pelanggan. PLN juga membuka kanal pelayanan melalui aplikasi layanan mobile agar masyarakat dapat melaporkan gangguan yang terjadi di wilayah masing-masing.
“Pelayanan itu kami sudah upayakan yang terbaik, tapi kami tidak pernah mengabaikan keluhan dari pelanggan,” pungkasnya.
Reporter: Muhammad Zailany


