Distriknews.co, KUTAI KARTANEGARA — Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri mendorong mahasiswa baru Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) tidak hanya fokus pada kegiatan akademik, tetapi juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan.
Pesan tersebut disampaikan Aulia saat menjadi narasumber dalam Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Unikarta dengan tema “Merajut Harmoni: Membangun Karakter dan Intelektualitas Mahasiswa dalam Keberagaman”, Rabu (26/8/2026).
Di hadapan mahasiswa baru, Aulia menyebut mereka sebagai bagian penting dari masa depan Kabupaten Kukar. Menurutnya, mahasiswa yang baru memasuki dunia perguruan tinggi merupakan generasi yang nantinya akan melanjutkan pembangunan daerah.
“Teman-teman mahasiswa baru ini merupakan salah satu generasi penerus Kutai Kartanegara. Mereka merupakan matahari terbitnya Kutai Kartanegara,” ujar Aulia.
Ia mengibaratkan generasi yang saat ini memimpin pemerintahan dan berbagai sektor sebagai matahari yang mulai menuju tenggelam. Sementara mahasiswa baru merupakan matahari terbit yang sedang bergerak menuju puncak.
“Kalau kita ini kan sudah matahari puncak yang akan menjadi matahari tenggelam. Kalau mereka ini bagaikan sebuah matahari terbit yang akan menuju puncaknya, kita berharap mereka bisa menjadi puncak yang baik sebagaimana yang kita harapkan,” katanya.
Karena itu, kehadirannya dalam kegiatan PKKMB disebut bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi menjadi kesempatan untuk memberikan motivasi kepada mahasiswa agar lebih bersemangat menjalani kehidupan akademik dan kemahasiswaan.
“Kehadiran kami di sini untuk berbagi semangat, berbagi cerita dengan teman-teman, sehingga mereka antusias dalam menjalani kehidupan kemahasiswaannya,” ungkapnya.
Aulia juga menitipkan tiga tanggung jawab yang menurutnya harus dipahami mahasiswa selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Ketiganya yakni tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, serta masyarakat.
“Tadi kami menyampaikan bahwa selama menjadi mahasiswa, mereka harus menyelesaikan tiga tanggung jawab, tanggung jawab terhadap diri sendiri, tanggung jawab terhadap keluarga, dan tanggung jawab terhadap masyarakat yang juga men-support mereka,” jelasnya.
Untuk membantu mahasiswa menyelesaikan pendidikan, Pemkab Kukar juga menyiapkan dukungan melalui berbagai skema beasiswa. Salah satunya Beasiswa Kukar Idaman Terbaik yang masuk dalam program dedikasi pemerintah daerah.
Aulia berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban biaya pendidikan mahasiswa, termasuk kebutuhan uang kuliah tahunan.
“Melalui Beasiswa Kukar Idaman Terbaik, itu di 17 program dedikasi kita. Salah satunya adalah Beasiswa Kukar Idaman Terbaik. Kita menginginkan bahwa melalui beasiswa ini, minimal uang kuliah tahunan dari para mahasiswa itu sudah bisa ter-handle melalui beasiswa ini,” tuturnya.
Selain Beasiswa Kukar Idaman Terbaik, Aulia menyebut mahasiswa juga dapat memanfaatkan berbagai sumber pembiayaan pendidikan lainnya, mulai dari program beasiswa gratis pol, Program Indonesia Pintar (PIP), hingga beasiswa yang disediakan perusahaan.
“Kita berharap mereka nanti bisa mendaftarkan diri, dan sekarang sangat banyak sekali beasiswa. Kita punya beasiswa gratis pol, kita punya Beasiswa Kukar Idaman Terbaik, kita juga punya beasiswa PIP dan lain-lainnya. Dari perusahaan-perusahaan juga memberikan beasiswa kepada mahasiswa kita,” katanya.
Ia secara khusus meminta agar persoalan biaya tidak menjadi alasan mahasiswa Unikarta berhenti kuliah. Menurutnya, berbagai peluang beasiswa harus dimanfaatkan sehingga mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikannya.
“Jangan sampai ada anak Unikarta yang berhenti kuliah karena masalah tidak bisa membayar biaya kuliah,” tegas Aulia.
Aulia bahkan memberikan tantangan kepada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unikarta agar ikut memastikan mahasiswa yang mengalami kendala pembiayaan mendapatkan informasi dan akses terhadap program beasiswa yang tersedia.
“Ini juga saya kasih challenge terhadap teman-teman yang ada di Badan Eksekutif Mahasiswa Unikarta, untuk memastikan bahwa seluruh anak Unikarta ini bisa kuliah dengan baik, bisa terbiayai dengan baik selama mereka kuliah dengan benar,” ujarnya.
Selain persoalan pembiayaan, Aulia mendorong mahasiswa baru aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan. Menurutnya, pendidikan formal di ruang kelas perlu dilengkapi pengalaman berorganisasi untuk membangun kemampuan nonakademik.
Ia menilai organisasi dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kepemimpinan, kepedulian sosial, empati, serta kemampuan bekerja bersama orang lain.
“Kita berharap melalui organisasi kemahasiswaan ini soft skill teman-teman itu bisa terbangun. Bagaimana leadership-nya terbangun, bagaimana sisi empatinya terbangun, bagaimana sisi jiwa sosialnya terbangun,” katanya.
Menurut Aulia, berbagai kemampuan tersebut tidak cukup hanya diperoleh melalui pembelajaran akademik. Pengalaman berorganisasi menjadi salah satu sarana untuk melatih mahasiswa menghadapi persoalan dan berinteraksi dengan masyarakat.
“Nah, ini tentunya bisa ditempuh, dipupuk, dan dibina melalui kegiatan organisasi kemahasiswaan,” pungkasnya.
Reporter: Muhammad Zailany


