Hendak Menolong Temannya, Dua Bocah Berakhir dalam Tragedi Sungai Loa Haur

redaksi

Distriknews.co, LOA JANAN – Permukaan Sungai Loa Haur di Desa Bakungan, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara (Kukar), sedang turun ketika dua bocah berusia tujuh tahun bermain dan mandi di sana, Senin (31/8/2026).

Air yang surut mungkin membuat sungai terlihat lebih bersahabat. Namun kondisi itu ternyata menyimpan bahaya. Arus masih cukup kuat dan akhirnya dua anak yang bermain tanpa pengawasan orang dewasa itu ditemukan meninggal dunia.

Tragedi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kedalaman air bukan satu-satunya ukuran keamanan sebuah sungai. Ketika permukaan air turun, arus pada bagian tertentu tetap dapat bergerak deras dan membahayakan, terutama bagi anak-anak.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kukar, Fida Hurasani, mengatakan berdasarkan informasi saksi dan rekaman kamera pengawas atau CCTV, kedua korban awalnya terlihat bermain sambil mandi.

“Kalau menurut saksi di CCTV kemarin, korban bermain sambil mandi. Kondisi air memang sedang turun, tetapi arusnya deras. Kalau air turun, arusnya sangat terasa. Itulah mungkin penyebabnya,” kata Fida, Selasa (1/9/2026).

Dari Bermain Menjadi Situasi Darurat

Aktivitas kedua bocah tersebut terekam CCTV. Sekitar pukul 13.00 WITA, keduanya diketahui berada di sekitar sungai untuk bermain dan mandi.

Mereka masih terlihat hingga sekitar pukul 13.45 WITA. Setelah itu, keduanya tidak lagi terlihat dalam rekaman maupun terdengar.

Dari informasi yang dihimpun petugas, salah seorang korban diduga lebih dahulu mengalami kesulitan hingga tenggelam.

Melihat temannya dalam bahaya, korban lainnya diduga secara spontan berusaha memberikan pertolongan. Namun anak berusia tujuh tahun tentu memiliki keterbatasan untuk menghadapi arus sungai.

Upaya tersebut diduga justru membuat keduanya menjadi korban.

“Korban pertama itu yang duluan menjadi korban. Kemungkinan besar korban kedua menyusul karena ingin membantu temannya karena melihat temannya jatuh. Akhirnya dia ikut berupaya menolong,” ujar Fida.

Keterangan mengenai upaya pertolongan tersebut masih merupakan dugaan berdasarkan informasi dan rekaman CCTV yang diperoleh petugas.

Pencarian Berakhir di Dua Arah

Laporan mengenai hilangnya kedua anak diterima Mako Damkarmat Kukar pada Senin malam sekitar pukul 21.23 WITA.

Tim penyelamat kemudian bergerak menuju Sungai Loa Haur. Pencarian melibatkan Damkarmat Kukar, Basarnas, Polairud, TNI, Polri, relawan, keluarga korban hingga masyarakat.

Damkarmat Kukar turut mengerahkan satu unit mobil rescue dan satu unit perahu.

Penyisiran dilakukan dari lokasi terakhir kedua anak diketahui berada.

Hasil pencarian menunjukkan kuatnya pengaruh pergerakan air. Kedua korban ditemukan pada arah yang berbeda dari titik awal kejadian.

Korban pertama ditemukan sekitar pukul 11.40 WITA, sekitar 50 meter ke arah hulu.

Korban kedua baru ditemukan sekitar pukul 14.00 WITA. Lokasinya sekitar 50 meter ke arah hilir.

“Jadi, terpisah. Yang satu menuju ke hulu sekitar 50 meter dari titik TKP, yang satu lagi sekitar 50 meter ke hilir,” jelas Fida.

Keduanya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Setelah dievakuasi, jenazah kemudian diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.

Sungai dan Ruang Bermain Anak

Tragedi Loa Haur membuka persoalan lain yang tidak kalah penting: pengawasan terhadap anak-anak yang bermain di sekitar sungai.

Bagi masyarakat yang hidup dekat dengan kawasan perairan, sungai dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak pun dapat melihatnya sebagai tempat bermain dan mandi.

Namun rasa terbiasa terhadap keberadaan sungai tidak serta-merta menghilangkan risiko.

Kondisi air dapat berubah. Kedalaman tidak selalu merata dan arus di bawah permukaan tidak selalu terlihat dari tepian.

Dalam kasus Loa Haur, Fida menyoroti fakta bahwa kedua korban bermain tanpa didampingi orang tua maupun orang dewasa.

“Imbauannya, insiden ini mungkin dipengaruhi kurangnya pengawasan orang tua atau orang dewasa. Anak jangan sampai dilepaskan begitu saja kalau bermain di tempat yang berbahaya, terutama di air,” katanya.

Menurut dia, pengawasan menjadi penting karena anak belum sepenuhnya mampu membaca risiko ketika berada di kawasan perairan.

“Mereka mandi di air tanpa pengawasan orang tua atau orang dewasa,” ujarnya.

Tragedi dua bocah di Loa Haur pada akhirnya bukan hanya cerita tentang dua anak yang tenggelam.

Peristiwa itu memperlihatkan bagaimana sungai yang tampak surut tetap dapat menyimpan bahaya. Terlebih ketika anak-anak berada di dekat air tanpa kemampuan penyelamatan dan tanpa orang dewasa yang mengawasi.

Sungai boleh surut. Tetapi risikonya tidak selalu ikut surut.

Reporter: Muhammad Zailany

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?