Distriknews.co, LOA KULU – Longsor yang terjadi di Dusun Margasari, Desa Jembayan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Selasa (1/9/2026) sore, kembali menyebabkan rumah warga terdampak. Pergerakan tanah yang terjadi secara tiba-tiba membuat satu rumah roboh hingga masuk ke Sungai Mahakam, sementara sejumlah bangunan lainnya mengalami kerusakan.
Kepala Desa Jembayan, Erwin, mengatakan peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 17.20 WITA. Longsor disebut bergerak dari arah hilir menuju hulu dan berada tidak jauh dari lokasi longsor yang sebelumnya terjadi di kawasan tersebut.
“Kejadiannya kemarin sekitar pukul 17.20 WITA. Tiba-tiba saja terjadi longsor. Pergerakannya dari hilir, dari rumah salah satu warga, kemudian bergerak ke arah hulu,” kata Erwin, Selasa (1/9/2026).
Menurut Erwin, terdapat satu rumah yang seluruh bangunannya masuk ke sungai akibat pergerakan tanah. Sementara satu rumah lainnya tidak sampai masuk ke sungai, tetapi kondisi bangunannya sudah mengambang karena tanah di bawahnya ikut bergerak.
“Ada satu rumah yang seluruhnya masuk ke sungai. Kemudian ada satu rumah lagi yang tidak sampai masuk ke sungai, tetapi badan rumahnya sudah mengambang,” ujarnya.
Salah seorang warga terdampak, Mardiana, menceritakan detik-detik sebelum rumahnya mengalami kerusakan. Ia mengatakan sempat terdengar suara seperti kayu patah dari bagian rumah. Tak lama setelah itu, bagian pintu yang berada dekat kamar mandi roboh.
“Awalnya ada bunyi ‘trek-tek’, seperti suara kayu,” kata Mardiana.
Saat kejadian, Mardiana bersama keluarganya sedang berada di kebun. Anak Mardiana yang berada di sekitar rumah kemudian berteriak meminta pertolongan kepada warga yang berada di keramba. Warga langsung membantu mengeluarkan barang-barang dari dalam rumah untuk menyelamatkan harta benda yang masih dapat dipindahkan.
Setelah bagian awal rumah terdampak, pergerakan tanah kembali terjadi dan menyasar bagian dapur. Longsor kemudian merambat ke bangunan milik keluarga Mardiana yang berada di sekitar lokasi.
“Tidak lama kemudian, longsor lagi di sebelah sini, tepatnya bagian dapur. Setelah itu, rumah keluarga saya, sepupu saya, juga terdampak. Mereka hanya sempat mengeluarkan motor,” tuturnya.
Erwin menyebut sedikitnya lima kepala keluarga (KK) terdampak akibat longsor tersebut. Selain itu, terdapat dua KK yang memiliki keramba dan turut berada di sekitar kawasan terdampak.
“Ada lima KK yang terdampak dari rumah-rumah tersebut. Kemudian untuk warga yang memiliki keramba ada dua KK,” jelas Erwin.
Ia mengatakan lokasi longsor terbaru masih berada di sekitar titik kejadian sebelumnya. Jaraknya hanya beberapa meter dari lokasi longsor yang terjadi di kawasan jembatan. Menurutnya, kejadian terbaru merupakan dampak dari bagian tanah yang sebelumnya sudah mengalami ambrol.
“Tidak jauh. Kalau yang di jembatan itu, jaraknya hanya beberapa meter saja. Lokasinya masih berada di sekitar titik yang sama,” ungkapnya.
Mardiana mengatakan kondisi tanah di sekitar rumah sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda pengikisan sebelum kejadian. Ia juga menyebut jalan di kawasan tersebut sebelumnya mengalami longsor pada Sabtu. Setelah alat berat ekskavator datang, retakan kembali terlihat di sekitar rumah keluarganya.
“Setelah datang ekskavator, jalan itu mulai retak lagi di sekitar rumah keluarga kami. Kalau jalannya bergoyang, rumah juga ikut terasa bergoyang,” katanya.
Menurut Mardiana, rumah yang roboh mengalami kerusakan total. Tiang-tiang rumah yang sebelumnya berdiri tinggi bahkan sudah tidak terlihat setelah bangunan masuk ke sungai.
“Iya, langsung habis. Padahal tiangnya tinggi-tinggi, tetapi sudah tidak kelihatan lagi tiangnya,” ujarnya.
Pasca kejadian, warga yang rumahnya terdampak terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sebagian memilih tinggal sementara di rumah keluarga, sedangkan lainnya mengungsi ke rumah tetangga. Barang-barang yang berhasil diselamatkan juga dititipkan di rumah warga sekitar.
Erwin mengatakan pemerintah desa telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar sejak malam setelah kejadian. Koordinasi tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan surat resmi kepada pemerintah daerah.
“Alhamdulillah, BPBD tadi juga sudah memberikan bantuan sembako untuk lima KK. Kami juga sudah bersurat ke BAZNAS dan Dinas Sosial,” katanya.
Terkait kerugian, Erwin memperkirakan nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Namun, angka tersebut masih berupa perkiraan awal dan belum terdapat penghitungan secara keseluruhan terhadap kerusakan rumah maupun barang milik warga.
Pemerintah desa juga mengingatkan warga agar tidak kembali menempati lahan yang terdampak. Erwin menilai kawasan tersebut masih memiliki potensi terjadinya longsor susulan sehingga keselamatan warga harus menjadi prioritas.
“Imbauannya, lahan tersebut jangan lagi ditempati atau ditinggali karena sangat berbahaya bagi keselamatan,” tegasnya.
Erwin mengatakan potensi longsor susulan masih mungkin terjadi meskipun saat ini belum terlihat pergerakan tanah baru. Ia mengingatkan kondisi tanah di kawasan tersebut dapat berubah secara tiba-tiba tanpa selalu menunjukkan tanda-tanda dalam waktu lama.
“Sementara ini belum ada. Tetapi bisa tiba-tiba bergerak dan langsung ambrol,” ujarnya.
Mengenai penyebab pasti longsor, Erwin mengatakan pemerintah desa belum dapat memastikan. Ia menyerahkan kajian penyebab kepada tim ahli agar tidak muncul kesimpulan yang tidak berdasar.
“Belum tahu persis. Tim ahli yang lebih mengetahui. Kita tidak tahu dan tidak bisa menebak-nebak karena kita bukan ahlinya,” pungkasnya.
Reporter: Muhammad Zailany


