Asap Karhutla Mulai Selimuti Pusat Rehabilitasi Orangutan BOSF di Nyaru Menteng

redaksi

CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite.

Distriknews.co, KALIMANTAN TIMUR – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan mulai memberikan dampak terhadap aktivitas Pusat Rehabilitasi Orangutan yang dikelola Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).

CEO BOS Foundation, Jamartin Sihite, mengatakan dua pusat rehabilitasi orangutan yang dikelola bersama pemerintah, yakni Samboja Lestari dan Nyaru Menteng, hingga kini masih dalam kondisi aman dan belum terdampak api secara langsung.

“Pusat rehabilitasi orangutan yang dikelola BOS bersama dengan pemerintah di Samboja Lestari dan Nyaru Menteng saat ini masih aman, masih belum terkena dampak api secara langsung,” kata Jamartin, Selasa (1/9/2026).

Meski tidak ada api yang mendekati kawasan pusat rehabilitasi, asap karhutla mulai dirasakan, khususnya di Nyaru Menteng. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kualitas udara yang buruk dapat memengaruhi kesehatan orangutan maupun para pekerja yang melakukan aktivitas di lapangan.

“Hanya asap sudah mulai menyentuh di pusat rehab kita di Nyaru Menteng,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, Jamartin memastikan program rehabilitasi orangutan tetap berjalan. Salah satunya kegiatan sekolah hutan yang menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran dan persiapan orangutan sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitatnya.

Menurutnya, anak-anak orangutan masih beraktivitas seperti biasa meskipun kondisi lingkungan mulai terdampak asap.

“Di tengah-tengah karhutla sekarang ini, program sekolah hutan kita untuk anak-anak orangutan atau bayi orangutan masih tetap berjalan seperti biasa. Mereka masih beraktivitas di sekolah hutan,” jelas Jamartin.

Ia menyebut sejumlah orangutan yang berada dalam program rehabilitasi, termasuk Monyok dan Onyer, masih menjalani aktivitas di sekolah hutan. Tim BOSF terus memastikan kegiatan tersebut dapat berlangsung dengan tetap memperhatikan kondisi kesehatan dan keselamatan orangutan.

“Anak-anak orangutan kita, Monyok, Onyer, dan yang lain-lain masih beraktivitas seperti sebelum ada karhutla,” katanya.

Namun, dampak asap menjadi persoalan yang tidak hanya dirasakan oleh satwa. Para staf BOSF yang bertugas di kawasan rehabilitasi juga mulai menggunakan masker dalam menjalankan aktivitas sehari-hari untuk mengurangi paparan asap.

Jamartin mengatakan karhutla kali ini berdampak terhadap wilayah yang cukup luas. Menurutnya, salah satu dampak yang paling terasa saat ini ialah penyebaran asap yang dapat melintasi batas wilayah kebakaran.

“Kebakaran kali ini juga menimpa banyak wilayah dan yang paling besar pengaruhnya saat ini adalah asap. Asap itu bisa ke orangutan, bisa ke manusia,” ungkapnya.

Karena itu, BOSF membutuhkan dukungan tambahan untuk menjaga kondisi kesehatan orangutan dan staf selama periode kabut asap. Salah satunya melalui penyediaan vitamin dan suplemen makanan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh.

“Untuk itu kami sangat membutuhkan dukungan untuk menambah boosting energi mereka lewat vitamin dan suplemen makanan, sehingga mereka bisa lebih sehat dalam menghadapi asap yang datang melewati batas-batas wilayah,” tutur Jamartin.

Dukungan tersebut dinilai penting karena aktivitas rehabilitasi tidak dapat berhenti begitu saja. Selain memastikan orangutan tetap mendapatkan perawatan, BOSF juga harus menjaga kondisi para staf yang menjadi garda terdepan dalam merawat satwa dan menjalankan berbagai program konservasi.

Jamartin juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini memberikan dukungan kepada BOSF. Menurutnya, dukungan masyarakat dan para pendukung menjadi bagian penting agar program konservasi tetap dapat berjalan, baik dalam kondisi normal maupun ketika menghadapi situasi seperti karhutla.

“Buat teman-teman yang mendukung BOSF, di manapun kalian berada, apa yang kalian lakukan mendukung kami dalam kondisi yang baik dan kondisi yang tidak baik seperti sekarang dengan karhutla, kami sangat mengucapkan terima kasih,” ujarnya.

Ia menegaskan keberlangsungan program BOSF tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Bantuan yang diberikan turut menopang kebutuhan orangutan maupun staf yang bekerja di pusat rehabilitasi.

“Tanpa dukungan kalian semua, kami tidak bisa mengerjakan apa yang kami lakukan saat ini. Apa yang kita butuhkan buat orangutan, apa yang kita butuhkan buat staf, semua bisa berjalan karena dukungan teman-teman semua,” pungkas Jamartin.

Reporter: Muhammad Zailany

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?