Distriknews.co, KUTAI KARTANEGARA – Surutnya Sungai Mahakam mulai mengubah pola pergerakan pesut Mahakam. Kondisi ini membuat mamalia air tawar endemik tersebut semakin bergantung pada alur sungai yang lebih dalam untuk bertahan hidup.
Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius. Danielle Kreb dari RASI mengatakan, ketika permukaan air turun, ruang gerak pesut menjadi semakin terbatas, khususnya di sepanjang alur Mahakam.
“Ini tentu saja sangat gawat. Karena memang kalau air surut, untuk masalah pesut itu kan terbatas di perairan dalam, khususnya di Mahakam,” kata Danielle, saat dikonfirmasi (19/8/2026).
Menurutnya, perubahan kondisi sungai juga mulai terlihat dari bergesernya lokasi kemunculan pesut. Jika sebelumnya pesut cukup rutin ditemukan di Sungai Pela, kini pergerakannya cenderung bergeser lebih ke hulu Mahakam.
“Sekarang kan sudah mereka mengubah posisinya, lebih bergerak ke hulu Mahakam, ke Muara Muntai,” ujarnya.
Danielle menjelaskan, Sungai Pela yang sebelumnya menjadi salah satu lokasi yang cukup sering digunakan pesut kini mengalami penyusutan. Bahkan, keberadaan danau yang mengering membuat alur sungai di kawasan tersebut semakin kecil.
“Mungkin di daerah Pela sudah. Mungkin malam sebentar masuk, tapi keluar lagi. Karena ada danau kering, jadi sangat kecil sudah sungainya itu,” jelasnya.
Pergerakan pesut ke arah hulu juga berkaitan dengan ketersediaan ikan. Danielle menyebut migrasi ikan seperti gendia dan repang turut mendorong pesut mengikuti sumber makanannya.
“Memang karena air surut, pasti pesut melakukan pergerakan ke hulu, karena ada ikan, migrasi ikan juga, seperti gendia, repang,” katanya.
Kondisi tersebut membuat seluruh kawasan Mahakam perlu mendapat perhatian. Pesut yang terus bergerak mencari perairan lebih dalam berisiko masuk ke lokasi yang kemudian terisolasi ketika air kembali menyusut.
Danielle mengatakan, kondisi terburuk yang dikhawatirkan adalah pesut terjebak di suatu perairan yang masih memiliki air dan ikan, sementara bagian sungai di sekitarnya mulai mengering.
“Terjebak di satu tempat yang misalnya putus. Dia tadi di tempat yang banyak ikan, ternyata di sekitar mulai kering. Otomatis perlu direlokasi, jadi kita khawatir,” ungkapnya.
RASI mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan pesut yang terlihat terisolasi atau berada di perairan yang semakin dangkal. Langkah cepat diperlukan agar pesut dapat dievakuasi sebelum kondisinya semakin membahayakan.
Danielle juga mengingatkan masyarakat di wilayah hulu, termasuk Kutai Barat dan Mahakam Ulu, untuk melaporkan apabila menemukan kemunculan pesut. Sebab, jangkauan pemantauan tim RASI masih terbatas.
“Kami juga terbatas untuk wilayah gerak. Tim pantau kami paling jauh yang biasanya ranger itu sampai daerah di atas Muara Pahulu,” ujarnya.
Menurut Danielle, perubahan pola pergerakan pesut saat kemarau bukan fenomena yang sama sekali baru. Ia mengingatkan kondisi ekstrem sebelumnya juga pernah membuat pesut ditemukan hingga kawasan Laham, di atas Datah Bilang.
Karena itu, RASI meminta masyarakat ikut menjadi bagian dari pemantauan. Informasi mengenai lokasi kemunculan pesut dapat membantu tim menentukan wilayah yang membutuhkan pemantauan maupun penyelamatan, terutama ketika kondisi Sungai Mahakam terus mengalami penyusutan.
Reporter: Muhammad Zailany


