Foto Sungai Belayan Hampir Kering Beredar, Camat Kembang Janggut Pastikan Hoaks

redaksi

Distriknews.co, KEMBANG JANGGUT – Foto yang memperlihatkan sebuah sungai dengan kondisi debit air sangat rendah hingga tampak hampir mengering beredar di media sosial Facebook. Foto tersebut kemudian diklaim sebagai kondisi Sungai Belayan di wilayah Kecamatan Kembang Janggut, Kenohan dan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Foto itu diunggah oleh akun Facebook bernama @Akbhar Cristiawan pada Minggu (16/8/2026). Dalam unggahannya, kondisi sungai yang terlihat sangat surut disebut sebagai dampak musim kemarau yang saat ini melanda sejumlah wilayah di Kukar.

Namun, klaim tersebut dibantah Camat Kembang Janggut, Suhartono. Ia memastikan foto yang beredar tidak menggambarkan kondisi Sungai Belayan saat ini dan meminta masyarakat tidak langsung mempercayai informasi yang beredar tanpa melakukan pengecekan.

“Foto itu hoaks karena kondisi Sungai Belayan saat ini tidak sekering itu,” ujar Suhartono, Senin (17/8/2026).

Suhartono mengakui debit air Sungai Belayan memang mengalami penurunan akibat musim kemarau. Kendati demikian, penyusutan tersebut menurutnya masih dalam kondisi yang jauh berbeda dengan gambaran pada foto yang beredar di media sosial.

Ia bahkan mempertanyakan kejanggalan dalam narasi yang menyertai foto tersebut. Menurutnya, kondisi Sungai Belayan yang disebut hampir kering tidak sesuai dengan situasi di lapangan, termasuk adanya peristiwa warga yang masih mengalami kecelakaan di sungai.

“Tidak logis apabila foto yang memperlihatkan kondisi Sungai Belayan hampir kering, tapi masih ada orang tenggelam,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut berkaitan dengan adanya laporan seorang bocah yang tenggelam di Sungai Belayan pada Minggu (16/8/2026). Korban kemudian ditemukan pada Senin (17/8/2026). Peristiwa tersebut menjadi salah satu alasan Suhartono menilai foto yang beredar tidak sesuai dengan kondisi Sungai Belayan sebenarnya.

Terkait asal-usul foto tersebut, Suhartono menduga dokumentasi itu telah mengalami penyuntingan atau justru merupakan foto sungai di wilayah lain yang kemudian diberikan narasi seolah-olah merupakan kondisi Sungai Belayan. Ia menyebut dugaan tersebut juga muncul dari komentar sejumlah pengguna media sosial.

“Bahkan komentar di dalam postingan itu, ada warganet yang bilang itu hasil editan ataupun AI. Tapi bisa juga itu foto sungai di wilayah lain yang dibikin narasi bahwa itu kondisi Sungai Belayan,” jelasnya.

Menurut Suhartono, penyebaran informasi yang tidak sesuai kondisi sebenarnya dapat menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat. Terlebih, informasi mengenai kondisi sungai dan dampak musim kemarau berkaitan langsung dengan aktivitas warga yang menggunakan jalur perairan tersebut.

Karena itu, ia meminta masyarakat tidak terburu-buru membagikan foto maupun informasi yang diterima dari media sosial. Informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya sebaiknya terlebih dahulu dikonfirmasi kepada pemerintah setempat atau pihak yang memiliki kewenangan.

“Jangan mudah percaya dengan informasi yang beredar. Sebaiknya di-cross-check terlebih dahulu,” imbaunya.

Ia juga mengingatkan pengguna media sosial agar lebih bijak dalam menyikapi setiap informasi, terutama konten yang disertai klaim mengenai kondisi suatu wilayah. Menurutnya, kebiasaan melakukan verifikasi sebelum membagikan informasi penting untuk mencegah munculnya keresahan maupun kesalahpahaman di masyarakat.

Di tengah musim kemarau, Suhartono menegaskan bahwa kondisi Sungai Belayan memang perlu tetap diperhatikan karena terjadi penurunan debit air. Namun, masyarakat diminta membedakan antara fakta kondisi di lapangan dengan informasi yang hanya beredar melalui media sosial.

Dengan adanya klarifikasi tersebut, masyarakat diharapkan tidak menjadikan foto yang beredar sebagai gambaran kondisi terkini Sungai Belayan. Pemerintah kecamatan juga mengimbau agar setiap informasi yang menyangkut kondisi lingkungan dan keselamatan masyarakat dikonfirmasi terlebih dahulu sebelum dipercaya ataupun disebarluaskan.

Reporter: Muhammad Zailany

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?