Hamparan Hijau Danau Semayang Jadi Magnet Wisatawan Saat Musim Kemarau

redaksi

Distriknews.co, KOTA BANGUN – Musim kemarau yang menyebabkan permukaan Danau Semayang di Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menyusut justru menghadirkan pemandangan alam yang tidak biasa.

Daratan yang biasanya berada di bawah permukaan air mulai terlihat ketika debit danau turun. Permukaan tanah tersebut kemudian ditumbuhi rerumputan hijau hingga membentuk hamparan luas menyerupai padang rumput di tengah danau.

Fenomena musiman itu perlahan menjadi daya tarik baru bagi wisatawan. Masyarakat yang sebelumnya mengenal Danau Semayang sebagai kawasan wisata susur danau serta habitat pesut Mahakam kini memiliki alasan lain untuk berkunjung, yakni menikmati panorama hamparan hijau yang hanya muncul ketika air danau mengalami penyusutan.

Keberadaan lanskap tersebut juga semakin dikenal setelah sejumlah pengunjung dan kreator konten mengunggahnya ke media sosial. Foto dan video hamparan rumput di tengah Danau Semayang kemudian menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.

Warga Liang Ulu, Kecamatan Kota Bangun, Mary Aryani, mengaku tertarik kembali mengunjungi kawasan tersebut setelah melihat ramainya wisatawan yang datang. Menurutnya, kondisi danau saat surut memberikan suasana berbeda dibandingkan kunjungan pada kondisi normal.

“Karena ramai, pemandangannya bagus, untuk foto-foto juga bagus di sini,” kata Mary, Senin (17/8/2026).

Ia menyebut perjalanan dari kawasan Liang Ulu menuju lokasi wisata membutuhkan biaya sekitar Rp25 ribu per orang. Meski demikian, daya tarik panorama yang muncul selama musim kemarau membuat masyarakat tetap tertarik datang.

Pengelola Desa Wisata Pela, Alimin Ajarbaizan, mengatakan peningkatan kunjungan tidak hanya terjadi dari masyarakat sekitar. Wisatawan dari berbagai daerah di Kalimantan Timur hingga luar daerah mulai berdatangan setelah mengetahui fenomena tersebut melalui media sosial.

“Karena mereka melihat di medsos kita. Nah, di situ mereka mengambil paket-paket, ada yang menginap, ada yang PP (pulang-pergi) dan macam-macam,” ujar Alimin.

Menurutnya, wisatawan yang datang selama periode libur Agustus bahkan berasal dari luar Pulau Kalimantan. Beberapa wisatawan mancanegara tercatat berasal dari Italia, Belanda dan Rusia. Sementara wisatawan domestik antara lain datang dari Jakarta dan Bandung.

Untuk wisatawan lokal, kunjungan masih didominasi masyarakat Kota Bangun dan wilayah Kukar. Namun, peningkatan jumlah pengunjung mulai terlihat dalam dua pekan terakhir, terutama sejak hamparan hijau di tengah Danau Semayang ramai diperbincangkan di media sosial.

Alimin memperkirakan total kunjungan ke kawasan Desa Wisata Pela selama musim kemarau tahun ini mencapai sekitar 4.000 orang. Angka tersebut meningkat dibandingkan kondisi normal yang rata-rata hanya sekitar 1.000 wisatawan dalam satu bulan.

Meski fenomena alam tersebut menjadi magnet baru, pengelola tidak menetapkan target khusus jumlah wisatawan. Pengembangan Desa Wisata Pela tetap diarahkan pada konsep ekowisata dengan menjaga karakter alam sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Wisatawan dapat memilih berbagai paket yang disediakan pengelola, mulai dari transportasi, penginapan atau homestay, konsumsi hingga aktivitas wisata selama berada di Desa Pela. Skema tersebut membuat peningkatan kunjungan turut membuka peluang usaha bagi masyarakat setempat.

Selain hamparan rumput, Desa Pela tetap menawarkan wisata susur danau untuk melihat pesut Mahakam yang menjadi salah satu daya tarik utama kawasan tersebut. Dengan demikian, penyusutan air Danau Semayang tidak hanya menghadirkan fenomena alam baru, tetapi juga memperkaya pengalaman wisata yang dapat ditawarkan kepada pengunjung.

Bagi masyarakat Desa Pela, hamparan hijau yang muncul akibat menyusutnya Danau Semayang menjadi contoh bagaimana fenomena alam musiman dapat memberikan peluang baru bagi sektor pariwisata. Namun, pengelolaan dan aktivitas wisata tetap perlu memperhatikan keselamatan pengunjung serta kelestarian lingkungan dan ekosistem danau.

Reporter: Muhammad Zailany

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?