Distriknews.co, MUARA MUNTAI – Kebakaran lahan di Desa Muara Leka, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), yang sempat berlangsung selama hampir dua pekan akhirnya mulai terkendali. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar memastikan kobaran api besar sudah tidak lagi ditemukan di lokasi.
Kebakaran yang terdeteksi sejak 10 Agustus 2026 tersebut sebelumnya menjadi perhatian karena terjadi di kawasan lahan gambut. Kondisi gambut yang memiliki kedalaman hampir satu meter membuat api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga menjalar melalui akar dan lapisan bawah tanah.
Koordinator BPBD Kukar, Novan Fahrozi, mengatakan proses pemadaman dilakukan secara bertahap oleh tim gabungan. Setelah penanganan berlangsung selama beberapa hari, kondisi kebakaran kini jauh lebih terkendali dan hanya menyisakan asap tipis di sejumlah titik.
“Alhamdulillah sudah kondusif. Kondisinya sedikit, asap saja lagi sedikit,” kata Novan, Minggu (23/8/2026).
Berdasarkan pemantauan terbaru BPBD Kukar, luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 74 hektare. Angka tersebut merupakan hasil pemantauan setelah proses penanganan dilakukan di sejumlah titik yang sebelumnya masih terbakar.
Sebelumnya, pada Jumat (21/8/2026), BPBD masih menyatakan proses pemadaman belum selesai. Petugas bahkan harus bekerja siang dan malam karena api dapat kembali muncul dari lapisan gambut.
“Gambutnya hampir satu meter kedalamannya. Dalam satu hari, area yang bisa dipadamkan tidak terlalu luas karena api bisa menjalar dan tetap menyala di bagian akar atau di bawah permukaan tanah,” jelas Novan saat itu.
Penanganan dilakukan secara gabungan dengan melibatkan BPBD Kukar, Manggala Agni dan pihak perusahaan. Sebanyak sembilan personel BPBD dan lima personel Manggala Agni dikerahkan, sementara pihak perusahaan turut mengerahkan pekerjanya sehingga total personel yang terlibat mencapai lebih dari 200 orang.
Berbagai peralatan digunakan selama proses pemadaman, mulai dari unit tangki berkapasitas 5.000 liter, mesin pompa apung, mesin Tohatsu hingga mobil slip on. Petugas juga menggunakan foam tipe A untuk membantu memadamkan material seperti kayu dan vegetasi yang terbakar.
Setelah kondisi membaik, sebagian personel BPBD mulai ditarik dari lokasi. Namun, Novan memastikan pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
“Cuma di lokasi tetap kami pantau. Kalau memang ada lagi titik apinya, mungkin nanti bisa ke sana lagi penanganan,” ujarnya.
Untuk sisa titik yang masih mengeluarkan asap, penanganan selanjutnya dilakukan oleh pihak perusahaan yang berada di sekitar lokasi. Perusahaan diminta tetap melakukan pengawasan dan memastikan bara di dalam lahan gambut benar-benar padam.
“Nanti sisa itu biar pihak dari perusahaan yang memadamkan sisa api. Sudah kondisi terkendali di sana,” kata Novan.
Berdasarkan pantauan satelit, kondisi kebakaran juga telah menunjukkan perkembangan positif. Novan mengatakan tidak lagi terlihat adanya indikasi kebakaran besar yang membutuhkan pengerahan personel dalam jumlah besar seperti pada tahap awal penanganan.
“Pantauan dari satelit juga sudah aman,” ujarnya.
Sementara itu, terkait penyebab kebakaran, informasi awal yang diterima BPBD mengarah pada dugaan aktivitas warga yang mencari ikan dengan cara membakar semak di luar kawasan Hak Guna Usaha (HGU). Api kemudian diduga merembet hingga masuk ke area perkebunan sawit milik PT JMS.
“Informasinya dari pihak perusahaan, ada warga yang mencari ikan dengan cara membakar semak di luar area HGU mereka. Kemudian, tanpa disadari, api merembet dengan cepat hingga masuk ke wilayah HGU perusahaan,” ungkap Novan.
Meski demikian, informasi tersebut masih menjadi keterangan awal dan belum dapat disebut sebagai kesimpulan mengenai penyebab kebakaran. Saat ini, prioritas utama BPBD bersama pihak terkait adalah memastikan seluruh titik api benar-benar aman dan tidak kembali menyebar.
Novan mengatakan sembilan personel BPBD yang sebelumnya berada di lokasi telah kembali, tetapi tetap dalam kondisi siaga untuk melakukan pengawasan. Jika ditemukan titik api baru yang berkembang, personel dapat kembali dikerahkan ke Muara Leka.
“Insyaallah tinggal dari tiap perusahaan saja lagi yang menjaga di sana, yang sisa titik api yang kecil itu tinggal mereka saja lagi,” katanya.
Ia menegaskan, hingga Minggu (23/8/2026), tidak ada lagi kebakaran dengan skala besar di lokasi tersebut. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan karena karakteristik lahan gambut memungkinkan bara kembali muncul dari bawah permukaan.
“Sudah tidak ada lagi sejauh ini,” pungkasnya.
Reporter: Muhammad Zailany


