Mengapa Harus Khawatir Ketika Nilai Tukar Rupiah Menurun?

redaksi

Distriknews.co Nasional – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan menjadi perhatian publik karena dikhawatirkan memicu lonjakan harga barang dan inflasi tinggi. Meski demikian, kondisi saat ini dinilai belum dapat disamakan dengan krisis ekonomi 1998.

Pada masa krisis 1998, rupiah melemah drastis dari sekitar Rp2.500 menjadi Rp17.000 per dolar AS atau turun lebih dari 600 persen. Dampaknya, inflasi melonjak hingga di atas 70 persen dan pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi tajam.

Seperti dilansir dari Kompas.com, berdasarkan dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia per 13 Mei 2026, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.496 per dolar AS. Namun pelemahan tersebut tercatat sekitar 9,38 persen dibanding awal tahun 2026 yang masih berada di kisaran Rp16.000 per dolar AS.

Pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi sejumlah faktor global. Salah satunya kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang membuat harga minyak mentah melonjak dari sekitar 65 dolar AS menjadi lebih dari 100 dolar AS per barel.

Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan impor energi dan permintaan dolar AS bagi negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia. Selain itu, inflasi Amerika Serikat yang meningkat turut memengaruhi kebijakan ekonomi global.

Data Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat menunjukkan inflasi tahunan AS mencapai 3,8 persen pada April 2026. Kenaikan itu dipicu tingginya harga bahan bakar minyak yang mengalami inflasi lebih dari 50 persen secara tahunan.

Situasi tersebut membuat Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed menunda penurunan suku bunga acuannya. Di sisi lain, kenaikan imbal hasil US Treasury turut memicu ketidakpastian pasar keuangan global.

Akibat kondisi itu, banyak investor memilih memindahkan aset ke dolar AS yang dianggap lebih aman atau safe haven. Faktor musiman seperti repatriasi dividen korporasi juga ikut menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Sumber: Kompas.com

Penyunting: Wanda Iqwatul Qofifah

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?