Krisis Air Ancam Lahan Pertanian, BPBD Kukar Petakan Risiko Gagal Panen di 9 Kecamatan

redaksi

Distriknews.co, KUTAI KARTANEGARA – Puncak musim kemarau mulai memberikan tekanan terhadap sektor pertanian di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Kekeringan yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir berpotensi mengganggu ketersediaan air bagi lahan pertanian hingga meningkatkan risiko gagal panen.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar bersama tim terpadu kini melakukan pemetaan terhadap lahan pertanian yang terdampak kekeringan. Sedikitnya sembilan kecamatan masuk dalam pemetaan untuk mengetahui kondisi tanaman sekaligus kebutuhan penanganan di masing-masing wilayah.

Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandy, mengatakan pemetaan dilakukan sebagai langkah awal untuk memperoleh gambaran kondisi pertanian di lapangan. Tim gabungan mulai turun langsung melakukan survei terhadap wilayah yang dinilai terdampak kemarau.

“Salah satu dampak turunan dari kemarau ini yang berdampak pada gagal panen. Dan mulai kemarin bersama tim kawan-kawan di satgas itu kita mapping, kita survei, keperluan yang gagal panen itu di sembilan kecamatan,” kata Sandi, Rabu (12/8/2026).

Sembilan kecamatan yang menjadi sasaran pemetaan yakni Marangkayu, Loa Janan, Anggana, Tenggarong, Tenggarong Seberang, Muara Kaman, Loa Kulu, Sebulu dan Samboja. Tim akan melihat secara langsung kondisi lahan, tingkat kekeringan, ketersediaan sumber air serta kebutuhan yang diperlukan petani.

Pemetaan dilakukan secara lintas sektor karena penanganan dampak kekeringan terhadap pertanian tidak hanya berkaitan dengan kebencanaan. Hasil survei nantinya akan menjadi dasar bagi perangkat daerah terkait untuk menentukan intervensi yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.

Marangkayu menjadi salah satu daerah yang telah memperoleh penanganan awal. Dalam beberapa hari terakhir, tim membantu memenuhi kebutuhan pengairan lahan pertanian yang terdampak kekeringan setelah menemukan sumber air yang masih dapat dimanfaatkan.

Sandi mengatakan, temuan sumber air tersebut menjadi salah satu alternatif untuk menjaga tanaman agar tetap memperoleh pasokan air. Namun, kondisi di delapan kecamatan lainnya masih dalam proses penilaian oleh tim terpadu.

“Pemeriksaan tersebut mencakup kondisi lahan, tingkat kekeringan hingga kebutuhan masing-masing wilayah. Nanti itu sektor leading-nya, nanti itu Dinas Pertanian,” tuturnya.

Dalam penanganan tersebut, BPBD Kukar berperan sebagai unsur pendukung. Sementara Dinas Pertanian akan menjadi sektor utama yang menentukan langkah teknis terkait penyelamatan tanaman, pola pengairan maupun intervensi pertanian berdasarkan hasil pemetaan di lapangan.

Menurut Sandi, kebutuhan setiap wilayah kemungkinan berbeda sehingga penanganan tidak bisa disamaratakan. Karena itu, tim terlebih dahulu mengumpulkan data mengenai kondisi lahan dan kebutuhan petani sebelum menyusun rencana penanganan.

“Supporting tadi. Apa sih yang mereka perlukan, apa yang bisa kita lakukan untuk jangka pendek ini. Kita akan ada rencana hasil yang kita akan susun,” tambahnya.

Selain penanganan jangka pendek, pemerintah juga mulai memikirkan langkah lanjutan untuk menghadapi musim kering. Salah satu opsi yang diusulkan adalah dukungan penyediaan benih padi yang lebih sesuai dengan kondisi pertanian saat musim kemarau.

Usulan bantuan tersebut nantinya dapat disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Pemilihan varietas benih yang sesuai dinilai penting agar petani tetap dapat mempertahankan produktivitas meski menghadapi keterbatasan air.

“Misalnya setelah ini menyelamatkan ini padi, misalnya sudah bisa panen, mungkin nanti ada bantuan yang dari provinsi. Itu tentang bibit yang memang padi, misalnya cocok untuk ditanam di saat musim kering ini,” jelas Sandi.

Menurutnya, perlindungan terhadap sektor pertanian menjadi penting karena Kukar merupakan salah satu daerah yang berkontribusi besar terhadap produksi padi di Kalimantan Timur. Karena itu, dampak kemarau terhadap lahan pertanian perlu ditangani sedini mungkin agar tidak berkembang menjadi gagal panen secara luas.

“Jadi kan secara harapnya memang kalau untuk bicara padi pun, kita ini Kukar salah satu penyumbang terbesar,” pungkasnya.

Reporter: Muhammad Zailany

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?