Warga Tabang Desak Polisi Ungkap Dugaan Perkelahian di Balik Kecelakaan, Massa Sempat Bakar Warung

redaksi

Distriknews.co, TABANG – Situasi sempat memanas di Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), setelah warga mempertanyakan penanganan kasus kecelakaan yang diduga memiliki kaitan dengan perkelahian.

Kericuhan tersebut bermula dari peristiwa yang terjadi di Desa Bila Talang, Kecamatan Tabang, pada Kamis (6/8/2026) sekitar pukul 22.00 WITA. Awalnya, masyarakat menerima informasi mengenai kecelakaan yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan satu orang lainnya mengalami luka-luka.

Camat Tabang, Azmi Riyandi Elvander, mengatakan korban yang mengalami luka sempat mendapatkan perawatan di Puskesmas Tabang. Sementara itu, setelah dilakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) oleh kepolisian, muncul dugaan bahwa peristiwa tersebut tidak semata-mata merupakan kecelakaan lalu lintas.

“Di awal itu diduga adanya kecelakaan, jadi meninggal dunia satu orang dan satu orang dalam kondisi sakit, luka-luka. Tidak tahu kondisi saat ini bagaimana, dia di puskesmas dirawat, di ruang inap,” ujar Azmi.

Namun, menurutnya, hasil olah TKP Polsek Tabang kemudian memunculkan dugaan adanya unsur pengeroyokan atau perkelahian dalam peristiwa tersebut. Informasi itu kemudian memicu pergerakan massa yang ingin mendapatkan kepastian mengenai penanganan kasus tersebut.

“Nah, setelah adanya hasil olah TKP oleh Polsek setempat, di situ muncul dugaan terkait dengan pengeroyokan atau perkelahian seperti itu. Nah, jadi dari hasil itulah ada pergerakan massa ingin menuntut,” jelasnya.

Azmi mengatakan jumlah orang yang disebut-sebut terlibat dalam peristiwa tersebut masih menjadi informasi yang berkembang di masyarakat. Ia menegaskan, pihak kecamatan belum mengetahui secara pasti jumlah maupun identitas pihak yang diduga terlibat karena proses penyelidikan masih dilakukan kepolisian.

“Informasi terakhir ini sekitar 20-an orang ya. Tapi ini masih isu, masih isu berkembang. Kita belum tahu hasil penyelidikan Polsek Tabang itu,” katanya.

Ketegangan kemudian meningkat setelah muncul sejumlah nama yang disebut masyarakat berkaitan dengan kejadian tersebut. Massa bergerak ke beberapa lokasi yang diduga memiliki keterkaitan dengan pihak yang dianggap terlibat, termasuk sebuah rumah dan warung yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Menurut Azmi, warung tersebut merupakan tempat makan yang biasa menjadi lokasi berkumpul warga, khususnya anak-anak muda pada malam hari. Massa kemudian mendatangi pemilik warung untuk meminta penjelasan terkait kejadian yang terjadi.

“Karena tadi massa bergerak ke lokasi dan mempertanyakan kepada yang mempunyai warung tersebut, yang memang itu berdekatan dengan wilayah kejadian dan memang tempat nongkrongnya,” ungkapnya.

Azmi menyebut situasi semakin emosional ketika massa merasa tidak mendapatkan penjelasan yang dianggap memadai dari pihak yang didatangi. Kondisi tersebut kemudian berujung pada aksi pembakaran di lokasi warung.

“Pada waktu minta penjelasan, tidak kooperatif. Akhirnya ya tadi ada beberapa emosi, sehingga terjadi pembakaran,” ujarnya, Sabtu (8/8/2026).

Meski demikian, Azmi menegaskan bahwa informasi mengenai pihak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut masih harus menunggu hasil penyelidikan kepolisian. Pemerintah kecamatan tidak ingin mengambil kesimpulan sebelum proses hukum dan pemeriksaan selesai dilakukan.

Setelah bergerak dari wilayah Desa Tabang Lama, massa kemudian mendatangi sejumlah lokasi yang diduga berkaitan dengan pihak yang disebut dalam kasus tersebut. Massa juga mendatangi lokasi kejadian sebelum akhirnya menyampaikan aspirasi kepada aparat penegak hukum di Polsek Tabang.

“Sudah membubarkan diri dari aksi massa, mulai dari berkumpul di wilayah Desa Tabang Lama, kemudian menyasar ke beberapa lokasi yang diduga rumah pelaku, kemudian itu mendatangi tempat TKP, dan terakhir mereka menyampaikan sebuah aspirasi atau mendatangi kepada penegak hukum, yaitu Polsek Tabang,” terang Azmi.

Ia mengatakan massa meminta adanya kepastian hukum dan transparansi dalam proses penanganan perkara. Bahkan, menurut informasi yang diterimanya, massa menyampaikan akan kembali bergerak apabila dalam dua hari terakhir tidak ada perkembangan atau pengumuman mengenai pihak yang diduga terlibat.

“Kalau Polsek tidak mengumumkan pelaku tadi dalam dua hari terakhir, maka massa akan bergerak lagi,” katanya.

Saat ini, Azmi memastikan massa telah membubarkan diri dan situasi di lapangan berangsur kondusif. Ia juga menyebut tidak terdapat korban tambahan akibat kericuhan tersebut.

Azmi mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dan tetap menjaga keamanan serta ketertiban selama proses hukum berlangsung. Ia menekankan bahwa tuntutan warga pada dasarnya berkaitan dengan kepastian hukum dan transparansi penanganan perkara.

“Untuk sekarang sudah kondusif. Korban tambahan itu tidak ada. Imbauannya kita menjaga tetap kondusif,” ujarnya.

Ia juga membantah adanya isu yang mengaitkan kericuhan tersebut dengan persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Menurutnya, persoalan yang terjadi murni berkaitan dengan tuntutan masyarakat agar proses hukum atas kejadian tersebut dilakukan secara jelas dan transparan.

“Sebetulnya tidak ada. Ini betul-betul real. Ini menuntutkan hukum, kemudian kepastian hukum dan transparan dalam langkah mengolah kejadian ini. Itu yang tidak diinginkan masyarakat tadi,” pungkas Azmi.

Reporter: Muhammad Zailany

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?