Kemarau Dua Bulan, Petani Bukit Biru Kukar Resah Padi Terancam Gagal Panen

redaksi

Kemarau yang melanda wilayah Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mulai berdampak terhadap lahan pertanian masyarakat.

Distriknews.co, KUTAI KARTANEGARA – Musim kemarau yang berlangsung hampir dua bulan mulai memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian di Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur.

Minimnya curah hujan membuat petani kesulitan memperoleh pasokan air untuk mengairi lahan persawahan. Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena sebagian tanaman padi mulai mengalami kekeringan dan terancam gagal panen.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bukit Biru, Hasim Adnan, mengatakan kondisi kekeringan saat ini sudah cukup parah. Menurutnya, kemarau telah berlangsung sekitar dua bulan dan membuat ketersediaan air di sejumlah saluran pertanian semakin menipis.

“Bukan pecah lagi. Sudah lebih daripada pecah intinya,” ujar Hasim, Minggu (9/8/2026).

Ia menjelaskan, sebagian tanaman padi saat ini telah memasuki fase pembentukan malai yang membutuhkan ketersediaan air cukup. Namun, hingga kini petani belum mendapatkan pasokan air yang memadai untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

“Ini harusnya padi malai keluar ini. Sudah ada harus ada air. Tapi ternyata sampai saat ini belum ada,” katanya.

Hasim mengatakan, selama ini sebagian besar petani di Bukit Biru masih mengandalkan sistem pertanian tadah hujan. Ketika curah hujan rendah, kondisi tersebut secara langsung memengaruhi ketersediaan air di lahan pertanian.

Persoalan semakin berat karena saluran parit yang telah dibangun belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Kendala utamanya adalah debit air yang sangat rendah sehingga pompa yang tersedia tidak mampu bekerja secara optimal.

“Walaupun Alhamdulillah kita sudah diberi beberapa bantuan seperti pompanisasi. Tapi mau gimana lagi karena debit air di parit itu tidak ada. Jadi kurang bisa kami gunakan karena tidak adanya air itu,” ungkapnya.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, petani mencoba memanfaatkan sisa pasang surut Sungai Mahakam sebagai sumber air alternatif. Namun, jumlah air yang dapat dialirkan ke persawahan masih belum mencukupi kebutuhan tanaman.

“Dan kami pun menyiasati dengan ada sisahan daripada pasang surutnya Mahakam itu. Kami bisa mengambil itu pun tidak maksimal. Malah padinya berpengaruh dengan adanya air tidak maksimal itu,” jelas Hasim.

Saat ini Gapoktan Bukit Biru memiliki empat unit pompa yang secara kondisi mesin disebut masih baik. Namun, seluruhnya belum dapat dimanfaatkan secara maksimal karena terdapat kendala pada panel dan jaringan listrik yang menghambat pengoperasian pompa.

“Kalau pompanisasi Alhamdulillah kami ada empat unit dalam posisi pompa baik, tapi tidak bisa kita maksimalkan karena ada panel-panel yang tidak bisa kita gunakan, dalam artian tidak tersalurnya listrik, jadi pompanya tidak dapat kami gunakan,” tuturnya.

Menurut Hasim, salah satu solusi yang dinilai dapat membantu mengatasi persoalan tersebut adalah membangun sistem pompanisasi dari arah Rempangan menuju Bukit Biru dengan memanfaatkan sumber air dari Sungai Mahakam.

“Jalan solusinya yaitu ada pompanisasi dari arah Rempangan menuju Bukit Biru yang ada akses daripada Mahakam,” ujarnya.

Luas lahan pertanian di wilayah Bukit Biru sendiri mencapai sekitar 200,7 hektare. Dengan kondisi kemarau yang belum menunjukkan tanda berakhir, petani mulai dihantui ancaman gagal panen, terutama kelompok tani yang baru melakukan penanaman ketika musim kemarau sudah berlangsung.

“Kalau ini kemungkinan ada potensi gagal panen karena di sebagian ada beberapa poktan yang baru tanam langsung kekeringan. Sekitar satu sampai dua minggu ini belum pernah kena air,” ungkapnya.

Hasim berharap Pemerintah Kabupaten Kukar bersama instansi terkait dapat segera mengambil langkah konkret untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian masyarakat. Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan penanganan segera agar dampak kemarau terhadap produksi pertanian tidak semakin meluas.

“Ya mudah-mudahan dari pemerintah, pihak-pihak terkait bisa mengupayakan ataupun bisa mengambil keputusan yang betul-betul bijak untuk kemajuan pertanian di Bukit Biru ini,” pungkasnya.

Reporter: Muhammad Zailany

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?