RASI Waspadai Pertemuan Pesut dengan Kapal

redaksi

Distriknews.co, KUTAI KARTANEGARA – Surutnya Sungai Mahakam meningkatkan risiko pertemuan pesut dengan kapal besar. Ruang gerak pesut yang semakin terbatas membuat mamalia air tawar tersebut lebih banyak bertahan di alur sungai yang dalam, yang juga menjadi jalur perlintasan kapal.

Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) mengingatkan kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko pesut tertabrak kapal. Danielle Kreb dari RASI meminta aktivitas kapal besar dikurangi, terutama ketika tidak benar-benar diperlukan.

“Kami juga mengimbau jangan sampai ada yang masih mondar-mandir, terutama kapal besar, karena itu pasti bersinggungan dengan jalur dalam, dan itu menambah bahaya atau risiko tertabrak dengan pesut,” kata Danielle saat dikonfirmasi, (19/8/2026).

Menurutnya, pesut memiliki kemampuan mendeteksi lingkungan di bawah air melalui pantulan suara. Namun, keberadaan kapal besar dapat mengganggu kemampuan tersebut karena suara yang ditimbulkan kapal terlalu kuat.

“Kalau sudah kapal besar dekat, itu kadang-kadang pesut tidak bisa mendengar pantulan dari sonar, sehingga dia tidak bisa mendeteksi di bawah air. Akhirnya dia harus naik ke permukaan,” jelasnya.

Risiko tersebut semakin tinggi pada malam hari. Dalam kondisi gelap, pesut memiliki keterbatasan untuk melihat keberadaan kapal yang berada di permukaan. Kondisi sungai yang dangkal juga membuat kapal menghadapi risiko kandas.

Karena itu, RASI secara khusus mengimbau kapal besar tidak beroperasi pada malam hari selama kondisi Mahakam masih surut.

“Apalagi kalau kondisi malam. Jadi kami sangat mengimbau kapal besar agar tidak beroperasi pada malam hari, terutama juga karena bisa kandas,” ujarnya.

Ancaman terhadap pesut tidak hanya berasal dari kapal yang melintas. RASI juga menyoroti keberadaan tongkang yang parkir di kanan-kiri Sungai Mahakam. Menurut Danielle, aktivitas tersebut dapat mengganggu struktur sungai dan ekosistem di sekitarnya.

“Banyak tongkang parkir di pinggir sungai. Sehingga itu sebetulnya dia menindih, mengubah juga struktur bentuk dari sungai,” ungkapnya.

Keberadaan tongkang yang berjejer juga dinilai dapat mempersempit ruang bagi nelayan untuk beraktivitas. Kondisi tersebut turut mengganggu habitat ikan di tepian sungai dan pada akhirnya dapat berdampak pada ekosistem yang menjadi bagian dari rantai makanan pesut.

RASI meminta kapal besar yang tidak memiliki kebutuhan mendesak untuk mengurangi aktivitas di Mahakam selama kemarau. Untuk distribusi tertentu, penggunaan jalur darat dinilai dapat menjadi alternatif apabila memungkinkan.

Danielle juga meminta lokasi parkir tongkang dipindahkan lebih ke hilir. Khususnya, kawasan antara Muara Muntai, Batuq hingga Muara Kaman disebutnya sebagai kawasan konservasi yang seharusnya tidak digunakan sebagai tempat parkir tongkang.

“Seharusnya tidak ada tongkang yang parkir kanan-kiri, apalagi berjajar bertigaan. Itu sangat mengganggu karena sekarang sulit nelayan mau memasang alat di pinggir sungai, juga susah mencari ikan di pinggir sungai,” tegasnya.

Menurut Danielle, ancaman tabrakan kapal menjadi semakin serius apabila kondisi sungai terus mengering. Pesut yang terkonsentrasi di perairan dalam akan memiliki pilihan ruang gerak yang semakin sedikit, sementara kapal juga cenderung menggunakan jalur yang sama.

“Kalau semakin kering lagi, kedalaman sungai itu kan… risikonya tabrakan kalau masih ada kapal tongkang yang lewat,” katanya.

Ia menegaskan pesut bahkan dapat terkena baling-baling kapal. Terlebih kapal berukuran besar dapat menghasilkan suara yang sangat kuat sehingga mengganggu kemampuan pesut memperkirakan jarak dan posisi kapal.

“Bisa banget itu. Apalagi yang besar itu kan bisa hampir tersedot, karena suara yang ditimbulkan itu terlalu tinggi untuk dia bisa mendengar dan mengestimasi jarak antara dirinya dan kapal ada di mana,” pungkasnya.

Reporter: Muhammad Zailany

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?