Dampak Mahakam Surut, Ketersediaan Pakan Pesut Mahakam Ikut Terancam

redaksi

Sungai Mahakam Mulai Menyurut (Sc Foto: Kompas.id).

Distriknews.co, KUTAI KARTANEGARA – Surutnya Sungai Mahakam tidak hanya mempersempit ruang gerak pesut, tetapi juga menuntut perhatian terhadap ketersediaan ikan sebagai sumber makanan utama mamalia air tawar tersebut.

Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) mengingatkan masyarakat agar tidak menangkap ikan secara berlebihan selama kondisi sungai mengalami surut. Danielle Kreb dari RASI mengatakan ikan di Mahakam merupakan sumber makanan bagi berbagai biota, termasuk pesut.

“Yang di Mahakam itu jangan dihabisin semua, supaya ikan masih bisa regenerasi,” kata Danielle.

Menurutnya, kondisi sungai yang surut turut memengaruhi pergerakan ikan. Sejumlah jenis ikan melakukan migrasi, termasuk gendia dan repang, sehingga keberadaan ikan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pesut ke arah hulu.

Karena itu, masyarakat diminta menggunakan alat tangkap yang diperbolehkan dan tidak menggunakan metode yang dapat menangkap ikan secara berlebihan.

“Harus tetap jaga, pakai alat yang memang diperbolehkan, bukan alat yang memonopoli,” ujarnya.

Danielle menyoroti penggunaan alat tangkap yang dapat menangkap ikan dalam jumlah besar, termasuk ikan-ikan berukuran kecil. Menurutnya, praktik tersebut tidak berkelanjutan karena dapat mengganggu regenerasi populasi ikan di Mahakam.

“Ada alat yang misalnya menangkap terlalu banyak atau ikan kecil-kecil seperti misalnya sawaran atau begongan. Itu kan menghabiskan, itu kan tidak berkelanjutan,” jelasnya.

Ia menegaskan ikan yang tersisa di sungai harus diberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang biak. Dengan begitu, populasi ikan dapat tetap tersedia sebagai sumber makanan bagi ekosistem Mahakam pada masa mendatang.

“Kalau begitu masih ada ikan sisa yang bisa nanti membesar dan memijah lagi untuk menjadi generasi ikan ke depan,” katanya.

Ancaman terhadap ikan juga dapat datang dari aktivitas manusia lainnya. RASI meminta masyarakat menjauhi kegiatan destruktif seperti penyetruman dan penggunaan racun karena dapat merusak ekosistem sungai sekaligus mengancam sumber makanan pesut.

Selain itu, penggunaan jaring yang dipasang melintang di sungai juga diminta untuk dihindari. Jaring dengan posisi tersebut tidak hanya berpotensi menangkap ikan, tetapi juga dapat membuat pesut terperangkap.

Danielle mengatakan RASI memiliki alat pemancar frekuensi tinggi yang dapat digunakan untuk membantu menjauhkan pesut dari jaring. Di wilayah Kukar, RASI membuka peluang membantu pemasangan alat tersebut apabila dibutuhkan.

“Kalau yang lain belum punya dan asal memasang jaring di pinggir, kami juga bersedia nanti, apalagi di daerah Kukar, untuk biasanya memasang alat itu supaya menjauhi pesut,” ujarnya.

Menurut RASI, menjaga populasi ikan menjadi semakin penting ketika Mahakam mengalami surut berkepanjangan. Jika ikan ditangkap tanpa mempertimbangkan keberlanjutan, tekanan terhadap rantai makanan akan semakin besar.

Di sisi lain, keberadaan tongkang yang parkir di kanan-kiri sungai juga dinilai dapat mengganggu habitat ikan. Perubahan struktur tepian dan arus sungai dapat membuat kawasan tersebut menjadi kurang sesuai bagi ikan.

Danielle meminta pemerintah dan masyarakat bersama-sama menjaga ekosistem Mahakam. Tidak hanya pesut yang perlu dilindungi, tetapi juga ikan dan habitat yang menopang kehidupan satwa tersebut.

“Jadi jangan sampai karena ikan banyak di Mahakam kita habisin. Ya, kalau habis berarti habis,” tegas Danielle.

RASI berharap masyarakat dapat memandang ikan Mahakam bukan hanya sebagai sumber penghasilan atau konsumsi saat ini, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang harus dipertahankan. Dengan menjaga populasi ikan dan habitatnya, keberlangsungan sumber makanan pesut juga dapat tetap terjaga.

Reporter: Muhammad Zailany

Baca juga

Bagikan:

Apa yang Anda cari?