Distriknews.co, KUTAI KARTANEGARA – Desa Kahala, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), berhasil menjadi desa dengan kinerja terbaik dalam upaya pencegahan, penanganan, dan penurunan stunting di tingkat Kalimantan Timur (Kaltim).
Capaian tersebut membuat Desa Kahala dipercaya mewakili Pemerintah Provinsi Kaltim dalam penilaian atau perlombaan di tingkat nasional.
Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Ekonomi Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, Deddy Setyo Utomo, mengatakan keberhasilan Desa Kahala merupakan hasil dari proses penjaringan yang dilakukan secara berjenjang.
“Desa Kahala menurut pemerintah provinsi ditetapkan sebagai desa berkinerja baik dalam pencegahan, penanganan, dan penurunan stunting,” kata Deddy, Jumat (11/9/2026).
Ia menjelaskan, sebelum ditetapkan sebagai wakil Kaltim, Desa Kahala terlebih dahulu mengikuti proses penjaringan di tingkat Kabupaten Kukar.
Desa yang dinilai memiliki kinerja baik kemudian disampaikan ke pemerintah provinsi untuk mengikuti proses penilaian berikutnya.
“Pertama, kami melakukan penjaringan di tingkat kabupaten. Desa yang dinilai memiliki kinerja baik di tingkat kabupaten kemudian disampaikan ke provinsi,” ujarnya.
Setelah melalui penilaian tingkat provinsi, Desa Kahala dinilai memiliki capaian yang baik sehingga ditetapkan untuk mewakili Kaltim ke tingkat nasional.
Menurut Deddy, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi berbagai unsur di Desa Kahala. Di antaranya Posyandu, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), lembaga kemasyarakatan desa, pemerintah desa, hingga dukungan perusahaan setempat.
“Hal itu juga merupakan bagian dari kolaborasi antara Posyandu, PKK, dan lembaga kemasyarakatan desa yang ada di Desa Kahala. Selain itu, ada juga peran dari perusahaan setempat,” jelasnya.
Deddy mengatakan setiap desa memiliki kewajiban melakukan pencegahan dan penanganan stunting. Salah satu tahapan pentingnya adalah melakukan pendataan terhadap sasaran serta memantau perkembangan kondisi sasaran.
Data tersebut kemudian menjadi dasar pemerintah desa dalam merumuskan program penanganan stunting. Sebelum menyusun kegiatan yang akan dituangkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes), pemerintah desa biasanya melakukan rembuk stunting.
“Biasanya pemerintah desa melakukan rembuk stunting sebelum menyusun program kegiatan yang akan dituangkan dalam APBDes. Itu harus dilakukan oleh pemerintah desa,” katanya.
Dari proses tersebut, pemerintah desa kemudian menentukan bentuk intervensi yang dinilai sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Intervensi dapat berupa pemberian insentif kepada kader Posyandu, pemberian makanan tambahan bagi sasaran stunting maupun inovasi lainnya.
Salah satu inovasi yang dikembangkan Desa Kahala adalah pemanfaatan potensi lokal untuk pemberian makanan tambahan. Desa tersebut memanfaatkan ikan yang menjadi salah satu potensi wilayah untuk diolah menjadi makanan tambahan.
“Kalau di Desa Kahala, mereka memiliki inovasi berupa pemberian makanan tambahan dengan memanfaatkan kekhasan dan potensi desa. Misalnya, potensi Desa Kahala adalah ikan, kemudian ikan tersebut diolah menjadi makanan tambahan,” ungkap Deddy.
Menurutnya, inovasi berbasis potensi lokal tersebut menjadi salah satu nilai unggul yang diperhatikan dalam proses penilaian tingkat provinsi.
“Itulah yang menjadi salah satu nilai unggul yang dinilai oleh pemerintah provinsi sehingga Desa Kahala bisa mewakili Provinsi Kalimantan Timur,” ujarnya.
Deddy berharap capaian Desa Kahala dapat menjadi motivasi bagi desa lainnya di Kukar untuk memperkuat program pencegahan dan penanganan stunting.
Ia menegaskan, upaya penurunan stunting bukan hanya menjadi tugas Posyandu, tetapi membutuhkan kolaborasi pemerintah desa, lembaga kemasyarakatan, kader, masyarakat serta pihak lain yang dapat mendukung program tersebut.
Di sisi lain, keberhasilan Kahala menunjukkan bahwa program penanganan stunting dapat dikembangkan dengan memanfaatkan potensi yang tersedia di masing-masing desa. Pendekatan tersebut diharapkan membuat intervensi lebih sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.
Reporter: Muhammad Zailany


