Distriknews.co, KUTAI KARTANEGARA – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyebut upaya penanganan dan penurunan stunting di wilayahnya menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Ekonomi Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, Deddy Setyo Utomo, mengatakan Kukar termasuk daerah dengan tingkat intervensi penurunan stunting yang tinggi di Provinsi Kalimantan Timur.
Menurutnya, penilaian terhadap upaya penanganan stunting dilakukan setiap tahun oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Dalam penilaian tersebut, Kukar dinilai memiliki kecepatan penurunan stunting yang cukup tinggi.
“Kalau penurunan stunting, setiap tahun memang kita dinilai oleh pemerintah provinsi. Kita termasuk yang paling tinggi dalam penurunan stunting,” kata Deddy, Jumat (11/9/2026).
Ia menjelaskan, tingginya capaian tersebut terutama terlihat dari sisi intervensi yang dilakukan pemerintah dan berbagai pihak dalam menangani stunting.
“Jadi, di tingkat Provinsi Kalimantan Timur, secara intervensi, Kutai Kartanegara termasuk yang paling tinggi. Maksudnya, penurunan stuntingnya paling cepat,” ujarnya.
Namun, Deddy tidak menyebutkan angka agregat atau persentase stunting terbaru di Kukar. Ia menyarankan data tersebut dikonfirmasi kepada Dinas Kesehatan yang memiliki data teknis mengenai kondisi stunting.
“Kalau angka agregat atau persentasenya, mungkin bisa ditanyakan kepada Dinas Kesehatan,” katanya.
Sementara dari sisi tingkat konvergensi program, Deddy menyebut Kukar telah menunjukkan capaian yang sangat tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
“Kalau secara persentase tingkat konvergensinya, Kutai Kartanegara sudah sangat tinggi dalam beberapa tahun terakhir,” jelasnya.
Meski demikian, tingginya capaian intervensi dan konvergensi tidak berarti persoalan stunting telah sepenuhnya selesai. Deddy mengakui masih terdapat kasus stunting di sejumlah titik di wilayah Kukar.
Ia mengaku tidak mengetahui secara detail kecamatan mana yang memiliki jumlah kasus stunting paling tinggi. Namun, menurutnya, kasus masih ditemukan di beberapa wilayah.
“Saya tidak terlalu detail mengetahui kecamatan mana yang paling banyak. Namun, di beberapa titik kecamatan memang masih ada kasus stunting,” ungkapnya.
Selain persoalan intervensi, Deddy menilai pemahaman masyarakat mengenai stunting juga masih perlu diperkuat. Edukasi menjadi salah satu faktor penting agar masyarakat dapat mengenali kondisi dan memahami upaya pencegahannya.
Menurutnya, sebagian masyarakat masih belum memahami secara baik mengenai stunting, termasuk bagaimana kondisi fisik anak yang mengalami gangguan pertumbuhan tersebut.
“Karena terkadang pemahaman masyarakat kita terhadap stunting masih belum teredukasi dengan baik. Stunting itu seperti apa dan bagaimana kondisi fisik anak yang mengalami stunting, kadang masih belum dipahami dengan baik,” katanya.
Karena itu, upaya penanganan stunting tidak cukup hanya melalui program pemerintah. Edukasi kepada masyarakat juga perlu dilakukan secara berkelanjutan agar keluarga memahami pentingnya pencegahan dan penanganan sejak dini.
Deddy menambahkan, pemerintah desa di Kukar pada umumnya telah melakukan berbagai upaya untuk mendukung penanganan stunting di wilayah masing-masing.
“Namun, kalau dari sisi penanganan, rata-rata masing-masing pemerintah desa sudah melakukan upaya secara maksimal,” pungkasnya.
Reporter: Muhammad Zailany


