DPMD Kukar Perkuat UMKM Desa Lewat Program OVOP

redaksi

Distriknews.co, KUTAI KARTANEGARA – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong pengembangan program One Village One Product (OVOP) di seluruh wilayah. Program ini ditujukan untuk mengoptimalkan potensi lokal melalui pengembangan produk unggulan desa dan kelurahan.

Program tersebut menyasar 20 kecamatan, 193 desa, dan 44 kelurahan di Kukar. Pemerintah daerah ingin setiap wilayah mampu menghasilkan produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi dan berpeluang menembus pasar yang lebih luas.

Kepala DPMD Kukar, Arianto, mengatakan pengembangan produk lokal perlu melibatkan pemerintah desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Kita mendorong pemerintah desa di setiap desa untuk bersama-sama dengan UMKM dan BUMDes yang mereka miliki mengembangkan produk-produk unggulan,” kata Arianto di Tenggarong, Jumat (2/10/2026).

Menurutnya, produk yang dikembangkan tidak boleh hanya dikenal di lingkungan desa. Pemerintah ingin produk tersebut berkembang menjadi komoditas unggulan yang mampu bersaing di tingkat daerah.

“Produk tersebut kemudian kita dorong agar bisa menjadi produk unggulan desa dan pada akhirnya menjadi produk unggulan daerah,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, DPMD Kukar mulai mendorong pengembangan industri berbasis potensi lokal di Kecamatan Kembang Janggut. Forum Puncak Workshop OVOP digelar di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kecamatan Kembang Janggut, Kamis (1/10/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah daerah, pemerintah desa, koperasi, perbankan, dunia usaha, dan mitra pembangunan. Forum ini menjadi bagian dari Program POWERRR (Palm Oil & Women’s Equity Through Resources Right and Representation), yang dijalankan Solidaridad Indonesia bersama Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera.

Arianto menjelaskan, inisiatif pengembangan industri lokal bermula dari gagasan pemerintah kecamatan yang mendapat dukungan sejumlah perusahaan. Konsep tersebut sejalan dengan arahan Bupati Kukar untuk mengembangkan produk unggulan di setiap desa.

“Pak Bupati kan selalu menyampaikan mengenai program One Village One Product. Hal tersebut kemudian disambut oleh teman-teman di kecamatan dengan mengembangkan konsep One District One Industry,” katanya.

Melalui konsep One District One Industry, setiap kecamatan didorong memiliki industri unggulan yang bertumpu pada potensi wilayah. Kembang Janggut menjadi kecamatan pertama yang menerapkan pendekatan tersebut.

DPMD Kukar selanjutnya akan menghubungkan pengembangan industri di tingkat kecamatan dengan potensi yang dimiliki setiap desa. Pemerintah desa bersama BUMDes dan UMKM diharapkan mampu mengolah potensi tersebut menjadi produk bernilai tambah.

Senior Manager Agriculture Carbon Solidaridad Indonesia, Edy Hartono, mengapresiasi hasil pendampingan Program POWERRR yang menjangkau 11 desa di Kecamatan Kembang Janggut.

Ia mengatakan, program tersebut memberikan perhatian terhadap penguatan usaha perempuan di pedesaan. Pendampingan yang dilakukan mencakup peningkatan kemampuan produksi, manajemen usaha, penyusunan rencana bisnis, perbaikan kemasan, serta perluasan akses pasar dan pembiayaan.

“Yang ingin kita bangun bukan hanya kemampuan menghasilkan produk, tetapi bagaimana perempuan-perempuan di desa memiliki ruang untuk mengambil keputusan dalam usaha dan memiliki akses terhadap sumber daya yang mereka perlukan,” ujar Edy.

Menurutnya, keberlanjutan jejaring menjadi salah satu tantangan setelah program pendampingan berakhir. Karena itu, keterlibatan pemerintah, koperasi, perbankan, dan dunia usaha diperlukan agar UMKM desa dapat terus berkembang.

“Setelah pendampingan ini selesai, tantangannya adalah bagaimana jejaring yang sudah terbentuk tetap hidup,” katanya.

Forum Puncak Workshop OVOP juga menghasilkan penandatanganan dokumen komitmen bersama oleh pemerintah daerah, pemerintah desa, koperasi, perbankan, dunia usaha, dan mitra pembangunan. Kesepakatan tersebut ditujukan untuk mendukung pengembangan usaha perempuan pelaku UMKM dari 11 desa di Kembang Janggut.

Sebelumnya, tim pendamping telah melakukan pemetaan potensi wilayah, penguatan kelompok usaha, pelatihan manajemen, serta penyusunan rencana bisnis. Pendampingan juga mencakup peningkatan kualitas kemasan dan pembukaan akses pasar serta pembiayaan.

Edy berharap kolaborasi yang telah terbangun dapat berlanjut setelah program pendampingan selesai. Dengan dukungan berbagai pihak, produk yang dikembangkan masyarakat diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan memberikan manfaat ekonomi bagi desa.

“Harapannya, kolaborasi ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini. Produk yang sudah dikembangkan bersama masyarakat harus terus mendapat dukungan,” pungkasnya. (Adv)

Reporter: Muhammad Zailany

Baca juga

Bagikan:

Tags

Apa yang Anda cari?